Gara News
Home Berita Wel dan Epul Tutup Tahun 2025, Kenang Karya Jurnalistik Human Interest
PROFIL & TOKOH

Wel dan Epul Tutup Tahun 2025, Kenang Karya Jurnalistik Human Interest

Senin, 29 Desember 2025 75 Views 1 Comment
wel-dan-epul-tutup-tahun-2025-kenang-karya-jurnalistik-human-interest

 

Foto: Irwanto dan Saepul Hadi

 

 

Catatan: Didin Maninggara

 

Menutup tahun 2025, saya mengajak ngobrol dua sahabat: Irwanto dan Saipul Hadi.

 

Wel dan Epul, sapaan akrab mereka. Wel kini wartawan Tribun Tipikor,com Biro Sumbawa dan Epul jurnalis GARANEWS.ID untuk liputan khusus.

 

Mereka, dua sosok yang cukup lama malang melintang dalam dunia jurnalis, yang dijalani dengan suka dan duka. Dengan keringat, dan kadang air mata.

 

Wel dan Epul suka mengangkat beragam kasus. Tapi dalam catatan ini, saya menelisik sisi lain, suka menulis jurnalisme human interest. Yaitu, karya jurnalistik yang berfokus pada cerita personal dan emosional tentang kehidupan manusia, mengangkat perjuangan, pencapaian, atau sisi kemanusiaan yang sering terlewatkan untuk membangkitkan empati, simpati, dan koneksi emosional pembaca. Ditulis dengan gaya bercerita naratif.

 

Tujuannya, membangkitkan rasa haru, simpati, atau empati melalui kisah yang personal dan intim.

 

Subjek yang ditulis sering mengangkat kehidupan orang biasa, kelompok marjinal yang nestapa yang luput dari perhatian.

 

Epul bercerita, ia pernah membuat jurnalisme human interest yang berangkat dari curhat seorang ibu lumayan kaya, yang anaknya kecanduan narkoba. Luar biasa pusingnya. Kalau tidak diberi uang bisa mencuri. Bila diberi uang sangat menghabiskan tabungan.

 

Ibu ini hidup menjanda setelah suaminya meninggal dunia, kadang tidak tega melihat anaknya seperti sekarat kesakitan luar biasa. Sampai kelojotan terkapar karena telat dapat narkoba.

 

Anak nomor dua Lisa, nama panggilan ibu ini kecanduan narkoba sejak umur 14 tahun. Sejak itu si anak keluar masuk pusat rehabilitasi. Tidak kunjung sembuh. Menurut catatan Lisa, keluar-masuk panti rehabilitasi sampai 7 kali. Tingkat kecanduannya itu sampai membuat sekolah si anak berantakan. Tidak tamat SMP. Akhirnya Lisa sadar, ia salah mendidik anak.

 

Sementara Wel, pernah menulis jurnalisme human interest bentuk lain. Tentang seorang perempuan kuat yang pernah terluka dan jatuh, kemudian bangkit berdiri tegak.

 

Ceritanya begini, kata Wel, sembari menyebut nama perempuan itu: Rani. Rani dihianati suami menceraikannya ketika baru satu bulan melahirkan anak pertama. Suami tergoda perempuan lain, janda tanpa anak hidup bercukupan dan punya rumah sendiri.

 

Rani yang ditinggal hidup susah di rumah kontrakan petak yang sempit, hari-harinya semakin menderita. Pekerjaannya sebagai pelayan toko ditinggalkan demi mengurus bayi. Hidup kian menderita membuat ia pulang kampung tinggal bersama ibu kandungnya yang telah lama sakit-sakitan.

 

Media tempat Wel jadi jurnalis, saat itu dibuat terharu oleh duka nestapa kehidupan Rani yang begitu dalam maknanya. 

 

Rani bercerita di media tersebut, saat menderita. Bukan air mata yang ditonjolkan, bukan pula amarah yang ditumpahkan pada penghianatan suaminya. Di media milik Babe Amin, jurnalis senior dan Pembina GJI NTB. 

 

Wel menuliskan bahwa Rani berdiri dari luka hatinya bukan sebagai perempuan yang kalah, melainkan sebagai perempuan yang akhirnya memilih melihat kebenaran tanpa harus berperang dengan siapa pun.

 

Sebuah kalimat yang langsung menampar perasaan banyak orang: "Yang hilang bukan aku, tapi yang hilang adalah kesempatanmu untuk dicintai dengan tulus sekali seumur hidup," ujar Rani di media itu.

 

Kalimat sederhana, tapi menusuk langsung ke hati. Karena di balik kata-kata itu, tersimpan ketegaran, keikhlasan, dan harga diri seorang perempuan yang memilih tetap berdiri meski hatinya pernah runtuh berkeping-keping.

 

Tak hanya itu, Rani menyelipkan pesan yang begitu dalam untuk para perempuan: Cintailah suamimu secukupnya, dan sisanya pasrahkan sepenuhnya kepada Allah. Karena pada akhirnya, cinta terbesar bukan hanya untuk manusia, melainkan untuk Sang Pemilik Hidup.

 

Sebagai wartawan lumayan kaya pengalaman lapangan, Wel menuliskan gambaran yang sangat nyata tentang pernikahan: Banyak lelaki menikah untuk mencari stabilitas hidup, sementara perempuan sering kali menikah dengan membawa seluruh hatinya, seluruh perasaannya, seluruh harapannya. Dan, kata Wel, Rani adalah salah satu contoh perempuan bangkit tegak berdiri menata ulang masa depan hidup menjada tanpa menggantung diri pada laki-laki, yang bisa jadi, suatu saat dihianatinya lagi.

 

Jurnalisme human interest yang ditulis Wel tersebut mengajarkan tentang arti ikhlas, sabar, dan mencintai diri sendiri. Sebuah pengingat, kata Wel, bahwa perempuan kuat bukanlah yang tak pernah terluka, tetapi yang mampu berdiri kembali dengan hati yang tetap bersih.

 

Mereka tidak hanya memburu berita, tapi juga punya kerja tambahan. Bahkan, penopang utama. Wel punya bengkel di halaman rumahnya yang lumayan luas. Namun, tidak seperti layaknya sebuah bengkel dengan tempat permanen. 

 

"Lumayan Bang Didin nambah asap dapur," ujar Wel, mengawali cerita. Sudah cukup lama Wel menjalani profesi tambahannya sebagai mekanik.

 

Sebagai mekanikator handal, membuat dirinya kadang super sibuk melayani pesanan. "Saya sering dipesan oleh beberapa teman datang ke Pulau Moyo dan pulau-pulau sekitarnya untuk memperbaiki mesin yang rusak," ujarnya.

 

Beda dengan Epul. Pria kelahiran Apitaik, Lombok Timur ini punya toko khusus bernama MM Tronik melayani servis: handphone, laptop, jam digital masjid dan kamera CCTV beralamat di Jalan Imam Bonjol Nomor 24 Kelurahan Pekat, Sumbawa Besar

 

Wel maupun Epul jadi jurnalis karena panggilan jiwa. Bukan lantaran tak punya pekerjaan. Sebab, jauh hari sebelum jadi jurnalis, Wel dan Epul bergerak sebagai wirausaha yang pernah sukses kala itu.

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.