Catatan:
Didin Maninggara
Dari Bandung Kota Kembang
(Episode 1)
___
Langit cerah
mengiringi senja memeluk malam.
Rosidah Resyad
menepi dalam sepi menunggu datangnya lentra langit.
Wajahnya
merayap mencari sisa rindu yang disimpan waktu.
Larut
dalam gelapnya malam, tapi tidak kehilangan cahaya nurani.
Ini bukan
mimpi, tapi ia berinspirasi mencurahkan mata pena puisi yang warna-warni bergentayangan di lorong sukma.
Bening,
mengalir setia menuju muara pesona penuh makna seperti burung-burung kecil mengepak sayap di dedauan seusai hujan membasahi bumi.
Warna-warni
puisinya membuka kucup senyum jalan kehidupan.
Mempertegas
garis tangan yang telah dicatat di almanak langit.
Dalam
puisi-puisinya, Rosidah menghadirkan makna sumpah setia, bahwa cinta tidak menjual bayangan seperti senja yang indah, kemudian redup ditelan malam.
Nuansa cerita yang muncul dalam tema puisi "Padang-Padang Dendang" yang dibagi di akun fb-nya dua hari lalu menampakkan korelasi antara pengalaman empiris dengan "keakuannya" dalam merekam cerita.
Seperti terasa dari kutipan Padang-Padang Dendang:
Selagi kecil aku bergelut warna
tiang rumah panggung kuhiasi
aksara cinta tertulis di tiang kayu
penuh makna menyirat masa berputik
Gambar gemunung kembar dua
adalah lukisan masa sibelia
yang menjadi milik zaman
Kala libur tiba, kami pergi melihat kapal
sembari muatkan impian di gladak
mencoba menantang matahari pedas
yang jatuh di kulit pasir
Orang-orang berceloteh mengisahkan pelayaran
sambil mengelus sibungsu yang rindu pelukan
Aku masih bertamasya,mencumbu alam yang kupijaki
karena masa kecil mengejar khatam
membantu ibu dan tidur
dalam dongengnya adalah kemegahan hayati
Tentang pulau sebrang tak pernah singgah di benak
hanya nyanyian pedesaan sebagai penerang cita
Dan padang-padangnya yang berdendang
adalah lukisan sunyi yang bertaluh
nyanyian burung, kecipak kaki kuda, kokok ayam
bahkan pencari kutu di ujung tangga kayu
ditenangkan angin hingga lena dan tertidur
adalah warna yang mempesona
Senja hari membawa angin renyah
kala air bersibak penuhi perigi
pengikat bakti dengan ibu
Padang-padang jiwa berdendang
dalam cinta ibuku yang tak pernah pecah
aku dapat melihat takdir dalam abdiku.
28 juli 2024
+++
Sebagai penyair
yang besar di lingkungan pendidik _guru di SMP Negeri 3 Sumbawa Besar_ Rosidah mendedikasikan karya-karya puisinya sebagai perempuan hari kemarin, hari ini dan hari esok dalam waktu berpacu menghasilkan hal-hal produktif.
Di dalam
dinamika kreativitasnya, ia mengayomi puisi-puisinya dengan lanskap batin dan naluri perempuan yang ia hadirkan dalam bening nuraninya.
(Bersambung ke episode 2).
John Doe
5 days agoLorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.