Gara News
Home Berita Warna-Warni Puisi Rosidah Resyad: Hadirkan Nurani Perempuan
Sosok

Warna-Warni Puisi Rosidah Resyad: Hadirkan Nurani Perempuan

Kamis, 02 Juli 2026 92 Views 0 Comment
warna-warni-puisi-rosidah-resyad-hadirkan-nurani-perempuan

 

 

Catatan:

Didin Maninggara

Dari Bandung Kota Kembang

(Episode 1)

___

 

Langit cerah

mengiringi senja memeluk malam.

 

Rosidah Resyad

menepi dalam sepi menunggu datangnya lentra langit.

 

Wajahnya

merayap mencari sisa rindu yang disimpan waktu.

 

Larut 

dalam gelapnya malam, tapi tidak kehilangan cahaya nurani. 

 

Ini bukan 

mimpi, tapi ia berinspirasi mencurahkan mata pena puisi yang warna-warni bergentayangan di lorong sukma.

 

Bening,

mengalir setia menuju muara pesona penuh makna seperti burung-burung kecil mengepak sayap di dedauan seusai hujan membasahi bumi.

 

Warna-warni

puisinya membuka kucup senyum jalan kehidupan. 

 

Mempertegas

garis tangan yang telah dicatat di almanak langit.

 

Dalam 

puisi-puisinya, Rosidah menghadirkan makna sumpah setia, bahwa cinta tidak menjual bayangan seperti senja yang indah, kemudian redup ditelan malam.

 

Nuansa cerita yang muncul dalam tema puisi "Padang-Padang Dendang" yang dibagi di akun fb-nya dua hari lalu menampakkan korelasi antara pengalaman empiris dengan "keakuannya" dalam merekam cerita.

 

Seperti terasa dari kutipan Padang-Padang Dendang: 

 

Selagi kecil aku bergelut warna

tiang rumah panggung kuhiasi 

aksara cinta tertulis di tiang kayu

penuh makna menyirat masa berputik

 

Gambar gemunung kembar dua 

adalah lukisan masa sibelia

yang menjadi milik zaman

 

Kala libur tiba, kami pergi melihat kapal

sembari muatkan impian di gladak

mencoba menantang matahari pedas

yang jatuh di kulit pasir

 

Orang-orang berceloteh mengisahkan pelayaran

sambil mengelus sibungsu yang rindu pelukan

 

Aku masih bertamasya,mencumbu alam yang kupijaki

karena masa kecil mengejar khatam

membantu ibu dan tidur 

dalam dongengnya adalah kemegahan hayati

 

Tentang pulau sebrang tak pernah singgah di benak

hanya nyanyian pedesaan sebagai penerang cita

 

Dan padang-padangnya yang berdendang

adalah lukisan sunyi yang bertaluh

 

nyanyian burung, kecipak kaki kuda, kokok ayam

bahkan pencari kutu di ujung tangga kayu

ditenangkan angin hingga lena dan tertidur

adalah warna yang mempesona

 

Senja hari membawa angin renyah

kala air bersibak penuhi perigi

pengikat bakti dengan ibu 

 

Padang-padang jiwa berdendang

dalam cinta ibuku yang tak pernah pecah

aku dapat melihat takdir dalam abdiku.

 

28 juli 2024

 

+++

 

Sebagai penyair

yang besar di lingkungan pendidik _guru di SMP Negeri 3 Sumbawa Besar_ Rosidah mendedikasikan karya-karya puisinya sebagai perempuan hari kemarin, hari ini dan hari esok dalam waktu berpacu menghasilkan hal-hal produktif.

 

Di dalam

dinamika kreativitasnya, ia mengayomi puisi-puisinya dengan lanskap batin dan naluri perempuan yang ia hadirkan dalam bening nuraninya.

 

(Bersambung ke episode 2).

Tags:

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.