IMG-LOGO-X
Home Berita Sepotong Cerita Wirawan Ahmad yang Tersimpan Waktu
Berita utama

Sepotong Cerita Wirawan Ahmad yang Tersimpan Waktu

Rabu, 21 Desember 2022 - 04:50 133 Views 0 Comment
sepotong-cerita-wirawan-ahmad-yang-tersimpan-waktu

"Kudekap cintamu, sayang.
Kutanam di lubuk hati
paling dalam. Kemudian
bersemayam di kolong batin.
Agar kebersamaan menyertai
kita hingga ajal datang menjemput."

 

Begitulah, H. Irawan Ahmad memaknai hidup berumah tangga bersama bidadari terkasih, Irine Silviani.

 

Ia menjunjung sikap terbaik dari cintanya, hanya dengan kesetiaan. Setia dalam suka dan duka.

 

Sikapnya itu adalah diapora dari gerimis rindu yang menyulut hujan cinta. Lalu menebar senyum terindah. Luluh dalam kalbu ketika malam bersitatapan mencari kenyamanan batin yang nyaris hilang di pabrik beraktivitas sebagai birokrat karir di Pemprov NTB.

 

Perjalanan cinta suami istri ini menggumpal begitu kuat. Bukan hanya tentang jarak dan waktu. Bukan hanya tentang apa yang mereka lewati.

 

"Namun, perjalanan ini tentang bersamamu. Tentang canda tawa kita berdua, tentang anak-anak kita," bisik Wirawan, Irine pun mangut ceria. Mereka selalu membersamai waktu yang enggan berhenti. Mengukir kenangan tentang mereka berdua.

 

Alumnus Universitas Gajah Mada ini bernama lengkap H. Wirawan Ahmad, S.Si; MT dan istrinya Irine Silviani, SP; MM adalah alumni IPB.

 

Diusianya yang sedang naik daun, senantiasa berdoa setiap sholat, semoga lebih tabah menjalani kehidupan ini. Lebih ikhlas dan sabar menerima setiap kenyataan. Lebih dewasa menyikapi setiap suka dan duka. Memohon kepada Allah perlindungan dan kekuatan untuk sekeluarga.

 

Wirawan menikahi Irine Silviani pada 11 November 1999. Dikurinai tiga buah hati. Gagas Bangun Tanata (mahasiswa Binus Jakarta), Muhammad Nurcholis (SMA Muhammadiyah I Yogyakarta) dan Bijak Tata Negara (alumni Pesantren Modern Internasional Dea Malela) milik Prof. Dr. Din Syamsuddin.

 

Irine adalah anak dari pasangan Arif Hasan Basri dan Siti Rahmah Lala Bidara, yang akrab disapa Lala Aya. Lala Aya adalah anak dari pasangan Lalu Masmaling Muhammad Arsyad Dea Bawa bin Sultan Djalaluddin III (Dea Bawa) dan Lala Hadiatullah binti Lalu Mustafa.

 

Dea Bawa bersaudara kandung dengan ayah Sultan Sumbawa IV, Sultan Muhammad Kaharuddin. Sultan Muhammad Kaharuddin adalah ayah Sultan Sumbawa sekarang. Sementara Lala Hadiatullah merupakan kakak sepupu Syamsuddin bin Abdullah, ayah dari Prof Dr Din Syamsuddin. Dengan demikian, Lala Aya juga bersaudara sepupu dengan Prof Din. Maka, Irine merupakan keponakan Prof Din.

 

Wirawan, kelahiran Sumbawa pada 8 Oktober 1974. Saat ini menjabat Asisten III Sekda NTB. Sebelumnya, Kepala BRIDA NTB dan Staf Ahli Gubernur NTB Bidang Ekonomi, Keuangan dan Infrastruktur.

 

Ia sudah aktif dalam pergumulan pemikiran keindonesiaan, khususnya keislaman moderat sejak menjadi mahasiswa di Universitas Gajah Mada. Ia mengikuti pemikiran keindonesiaan dan keislaman moderat Prof Din Syamsuddin dan seniornya sealmamater, Prof Dr Anies Baswedan yang sama-sama HMI. Juga mengikuti pemikiran keindonesiaan dan keNTBan Bang Zul, sapaan populer Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, M.Sc.

 

Kebersamaannya dengan Prof Din sebagai sang paman dari garis istrinya berlanjut di Pesantren Modern Internasional Dea Malela (PMI Dea Malela). Wirawan didaulat menjadi Ketua Ikatan Wali Santri (IKWS) di pesantren itu, karena putra bungsunya, Bijak Tata Negara nyantri di PMI Dea Malela. Selain juga duduk dalam jajaran Pengurus Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dea Malela (YPK Dea Malela) yang diketuai Prof Dr Syaiful Bakhry, SH; MH (alm) mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta dua periode.

 

Acapkali Wirawan terlibat dalam diskusi santai, sembari ngobrol ngalur ngidul dengan canda tawa di PMI Dea Malela saat Prof Din berada di pesantren itu.

 

Paradigma pemikiran keislaman dalam perspektif keindonesiaan selalu munculkan sisi yang menarik ia diskusikan. Yakni, Indonesia dikenal sebagai mayoritas umat Islam yang moderat dan cinta damai. Umat Islam Indonesia memiliki kekayaan alam dan kekayaan nilai-nilai budaya serta mampu memahami keberagaman budaya lokal dan budaya dunia. Umat Islam Indonesia juga dikenal mudah menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi pilar peradaban dunia.

 

Yang juga cukup berharga, menurut Wirawan, umat Islam Indonesia memiliki sumberdaya sejarah, termasuk sejarah peradaban, sejarah pertumbuhan dan sejarah pengembangan Islam.

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.