Catatan:
Didin Maninggara,
Pemred GARANEWS.ID
Saat audit BPKP belum selesai, anggota Polri berambut panjang itu, justru menerima surat mutasi. Bukan selembar penghargaan atas dedikasi dan integritasnya.
Di meja kerjanya, berkas korupsi itu belum ditutup, namun namanya sudah dicoret dari penyidik.
Begitulah yang dialami Aipda Vicky Katiandagho. Kanit Pidsus Sat Reskrim Polres Minahasa.
Ia sedang menangani dugaan korupsi yang melibatkan orang berpengaruh di Kabupaten Minahasa.
Puluhan saksi sudah diperiksa. Koordinasi audit kerugian negara dengan BPKP Sulut sedang berjalan.
Lalu surat itu datang. Ia dimutasi ke Polres Kepulauan Talaud. Tanpa penjelasan yang jelas.
Ia tidak menolak ditempatkan jauh. Ia hanya ingin menyelesaikan perkara yang sudah ia mulai.
Ia menulis ke Kapolri. Meminta mutasinya ditinjau.
Bukan untuk jabatan, tapi untuk menuntaskan kasus. Tidak dikabulkan.
Ia dihadapkan pada pilihan:
tetap menjadi bagian sistem, atau menjaga integritasnya. Ia akhirnya memilih mundur dari institusi Polri.
Keputusannya memilih mengundurkan diri dari Polri, mungkin lebih terhormat ketimbang tetap bertahan dalam tekanan.
Ia bangga dengan seragam dinasnya, meski sehari-harinya berpakaian bebas karena ia seorang reskrim.
"Bukan seragam atau jabatannya yang membuatku bangga, tapi hatinya yang seputih aroma kopi," tutur istri Aipda Vicky Katiandagho, dengan tatapan lembut penuh kebanggaan.
"Keputusan Vicky untuk mundur dari kepolisian adalah bukti bahwa ia lebih mementingkan keberkahan keluarga daripada sekadar mempertahankan kedudukan. Kami semua mendukung penuh keputusannya, apa pun yang ia pilih untuk masa depannya, asalkan itu halal dan membawa keberkahan bagi kami."
Vicky Katiandagho, seorang polisi berdedikasi dengan rambut panjang ikoniknya, telah membuat keputusan besar dalam hidupnya. Mundur dari institusi Polri.
Keputusan tersebut bukanlah hal yang mudah bagi seorang polisi yang telah mengabdi selama bertahun-tahun. Namun, bagi Vicky, keberkahan keluarga di atas segalanya.
"Seragam itu hanya simbol, tapi keberkahan itu abadi," ungkapnya.
"Keputusan Vicky memang mengejutkan bagi banyak orang, tapi bagi kami, ini adalah langkah yang tepat," kata sang istri.
Sang istrinya tahu, betapa besar dedikasinya pada Polri, tapi kami juga tahu betapa pentingnya keberkahan bagi keluarga.
Keputusan Vicky untuk mundur dari kepolisian tak lepas dari peristiwa "mutasi misterius" yang menimpanya saat ia tengah menangani kasus korupsi besar. Hal tersebut menjadi pemantik bagi Vicky untuk berpikir ulang tentang makna pengabdian yang sesungguhnya.
"Pahitnya kejujuran jauh lebih baik daripada manisnya uang haram," tegasnya.
"Kami semua mendukung Vicky untuk terus berjuang, meskipun tidak lagi dalam seragam polisi," sambung istrinya.
Vicky akan terus berdedikasi untuk masyarakat, apapun yang ia pilih untuk masa depannya.
Ia dan istrinya percaya dengan keyakinan, bahwa setiap langkahnya akan selalu membawa keberkahan bagi mereka.
Keputusan Vicky Katiandagho adalah sebuah contoh nyata bahwa keberkahan keluarga di atas segalanya. Meskipun harus mengorbankan jabatan dan status sosial, Vicky lebih memilih untuk hidup dengan jujur dan penuh keberkahan.
Kisahnya adalah sebuah inspirasi bagi kita semua untuk selalu memprioritaskan keberkahan keluarga di atas segalanya. Integrita di atas segalanya.***
John Doe
5 days agoLorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.