Oleh: Moh Kisman Pangeran,
____
Busana bisa jadi identitas. Bisa juga jadi cerita. Di Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat, ada satu tradisi berbusana yang makin hari makin sulit diabaikan: Rimpu.
Rimpu adalah cara berhijab khas perempuan Mbojo menggunakan kain tenun lokal “tembe nggoli”. Kain dililit menutup kepala hingga sebatas dada, menyisakan wajah. Anggun, sederhana, tapi penuh makna. Dulu dipakai sehari-hari oleh para ibu di kampung. Kini, Rimpu turun ke jalan, naik panggung, bahkan dibawa ke Jakarta.
Pawai Rimpu: Dari Tambora Menyapa Dunia
Beberapa hari lalu, Kota Bima kembali gegap gempita. Ribuan perempuan dari berbagai usia turun ke jalan dalam Pawai Rimpu. Jalanan berubah jadi lautan tembe nggoli dengan motif nggusu waru, bunga samobo, dan wunta cengke. Peserta membludak. Antusiasme ini bukan baru sekali.
Tradisi pawai ini sudah jadi agenda tahunan. Titik awalnya menarik: sekitar puluhan tahun lalu di Dompu, Rimpu diangkat dalam rangkaian acara “Tambora Menyapa Dunia” _peringatan meletusnya Gunung Tambora 1815. Dari event budaya itu, Rimpu pelan-pelan keluar dari rumah ke ruang publik. Dari Dompu merembet ke Bima, lalu viral di media sosial. Sekarang, tiap April orang tunggu-tunggu Pawai Rimpu.
Sejak Kapan Rimpu Ada?
Rimpu setua tembe nggoli. Sejarah tenun Mbojo sudah tercatat sejak Kesultanan Bima abad ke-17. Saat Islam masuk, perempuan bangsawan dan rakyat Bima-Dompu menyesuaikan cara menutup aurat dengan kain yang sudah mereka tenun sendiri. Lahirlah Rimpu.
Ada dua jenis: Rimpu Cili/Rimpu Mpida untuk gadis yang belum menikah, kain hanya menutup kepala dan disisakan sedikit di dahi. Rimpu Colo untuk perempuan menikah, menutup sampai seluruh rambut dan dahi. Filosofinya dalam: menjaga kehormatan, kesopanan, sekaligus penanda status sosial.
Daerah Mana yang Mengawali Tembe Nggoli?
Sentra utamanya di Raba, Bima dan Kempo, Dompu. Kampung-kampung penenun di sana mewariskan motif dan teknik dari ibu ke anak, dicelup warna alam dari daun tarum, kulit mahoni, lalu ditenun di gedogan berbulan-bulan. Sehelai tembe nggoli bisa 2-4 minggu baru jadi.
Dipakai Sehari-hari Nggak?
Jujur saja: Sekarang tidak semua. Di desa-desa, ibu-ibu 50 tahun ke atas masih setia ber-Rimpu ke pasar atau kondangan. Generasi muda lebih sering pakai jilbab modern. Tapi tren berbalik. Sejak Pawai Rimpu rutin digelar, anak SMA sampai ibu pejabat mulai bangga pakai Rimpu di acara resmi, wisuda, bahkan seragam kantor tiap Jumat. Rimpu jadi “busana kebanggaan”, bukan lagi “kain kuno”.
Dampak Ekonomi: Dari Gedogan ke Etalase
Di sinilah manfaat Rimpu paling terasa. Satu, menghidupkan penenun. Sebelum populer, banyak anak muda menolak nerusin neneknya karena “nggak ada duitnya”. Sekarang, harga tembe nggoli kualitas bagus Rp 500 ribu – Rp 2,5 juta per lembar. Pesanan datang dari Jakarta, Makassar, sampai Malaysia.
Dua, tumbuh ekosistem baru. Ada penjahit Rimpu modern, desainer yang bikin outer dari tembe nggoli, pemandu wisata tenun, konten kreator, sampai event organizer Pawai Rimpu. Di Dompu, omzet UMKM tenun naik 300% dalam 5 tahun terakhir menurut data Disperindag setempat.
Tiga, wisata budaya. Pawai Rimpu sudah masuk kalender wisata NTB. Hotel penuh, kuliner laku, travel lokal hidup. “Tambora Menyapa Dunia” yang dulu jadi pemantik, sekarang benar-benar mendatangkan dunia ke Bima.
Bisa Mendunia? Sudah Dimulai dari Jakarta
Jawabannya: bisa, dan sudah dimulai. Sejak lebih dari 5 tahun lalu, Yayasan Budaya Rimpu Nusantara (YBRN) berdiri di Jakarta. Tugasnya satu: bikin Rimpu nggak cuma milik Bima-Dompu.
YBRN bawa Rimpu ke Istana, ke peragaan busana di Senayan, ke pameran di Belanda dan Arab Saudi. Hasilnya? Desainer Didiet Maulana pernah pakai tembe nggoli. Influencer hijab Jakarta bikin tutorial “Rimpu style”. Artinya, Rimpu punya potensi jadi “wastra hijab Indonesia” sejajar dengan songket atau batik.
Syarat Biar Rimpu Nggak Cuma Musiman: 5 Langkah
1. Jaga kualitas dan pakem: Tembe nggoli harus tetap ditenun tangan. Motif pakem jangan hilang meski dibuat versi modern. Ini yang kasih “roh” dan nilai jual tinggi.
2. Regenerasi penenun: Bikin sekolah tenun di SMP/SMK Bima-Dompu. Kasih insentif. Kalau penenun habis, Rimpu tinggal cerita.
3. Kolaborasi desainer nasional: YBRN sudah di jalur yang benar. Ajak lebih banyak desainer bikin Rimpu ready-to-wear yang nyaman untuk kerja, kampus, kondangan.
4. Diplomasi budaya: Masukkan Pawai Rimpu ke Wonderful Indonesia. Bawa ke festival hijab dunia di Dubai, Istanbul, Kuala Lumpur. Ceritakan bahwa ini hijab ekologis dari benang kapas dan pewarna alam.
5. Digitalisasi pasar: Toko online khusus tembe nggoli, sertifikasi keaslian via QR code, konten TikTok “tutorial Rimpu 1 menit”. Anak muda beli karena keren, bukan karena kasihan.
Penutup: Kain yang Menyapa Zaman
Rimpu bukti bahwa tradisi tidak harus mati agar kita modern. Dia lahir dari Tambora yang murka, ditempa kesultanan, dirawat ibu-ibu di kampung, lalu dirayakan lagi oleh generasi TikTok.
Manfaatnya jelas: ekonomi jalan, identitas terjaga, perempuan Bima-Dompu punya panggung.
Merambah Nusantara? Sudah. Mendunia? Tinggal konsistensi.
Karena kain yang baik memang begitu. Dia tidak teriak, tapi menyapa. Pelan, hangat, dan bikin orang menoleh. Seperti Tambora menyapa dunia, Rimpu pun sedang menyapa masa depan.
Bogor, 26 April 2026.
John Doe
5 days agoLorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.