Gara News
Home Berita Mengenang Baji, Ibu yang Tabah Membesarkan Keenam Anaknya
Sosok

Mengenang Baji, Ibu yang Tabah Membesarkan Keenam Anaknya

Senin, 15 Juni 2026 33 Views 0 Comment
mengenang-baji-ibu-yang-tabah-membesarkan-keenam-anaknya

 

 

Catatan: 

Didin Maninggara

_____

 

Sabtu, 13 Juni 2026, Husna Daeng Baji binti Tabbua Daeng Bonto, akrab disapa Baji pergi untuk selamanya. Ia meninggal dalam usia 83 tahun di kediaman Rahma, salah seorang anaknya di Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten.

 

Baji dikaruniawi 6 orang anak: tiga putra dan tiga putri yang sudah berumah tangga. Dua di antaranya telah meninggal dunia, yaitu satu lekaki dan satu perempuan.

 

Minggu, 14 Juni, jasadnya dimakamkan di Legoso, diantar keempat putra putrinya, menantu, cucu, cicit,

keluarga dari KKSS (Kerukukan Keluarga Sulawesi Selatan), keluarga dari Ikasum Jaya ( Ikatan Keluarga Sumbawa Jakarta Raya) serta kerabat dan masyarakat.

 

Saya dan teman Sumbawa lainnya di antaranya Jahon Samawa dan Kep Zuhri Padusung, yang mengenal Baji sejak tahun 1981 merasakan kehilangan yang sangat dalam.

 

Sepeninggal Baji meninggalkan kenangan yang tak pernah akan dilupakan bagi anak-anaknya dan tentu juga bagi menantu dan cucu-cucunya.

 

Saat itu, kami masih bujangan, hidup bertetangga di Ciputat. Di sekitar komplek UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Baji yang saat itu baru hijrah di Jakarta dari Makasar, Sulawesi Selatan membawa anak-anaknya yang masih usia remaja.

 

Masa itu, Baji tinggal bersama sang suami, Aminullah asal Sumbawa yang telah mendahului dipanggil Sang Pencipta.

 

Yang sangat berkesan dan kami kenang adalah sosok Baji tetap tegar menghadapi hidup. Sabar dan ramah serta peduli dalam hidup bertetangga.

 

Ketegaran itu menular pada anak-anaknya dalam menjalani hidup dengan optimistis.

 

Ketabahan dan kesabaran Baji disertai doa-doanya dalam setiap sholat mengubah hidup anak-anaknya meraih pencapaian dengan limpahan rezeki yang berkah.

 

"Alhamdulillah...., ibunda meninggalkan kami dalam keadaan tenang, mohon doa semoga almarhumah husnul khotimah dan tenang di sisi Allah SWT," ujar Siti Hajar Satria, anak bungsunya.

 

Hajar bersama semua saudara kandungnya mengikhlaskan sang ibu menghadap Sang Pencipta Allah SWT.

 

Banyak pencapaian secara moral yang Baji raih dalam membesarkan anak-anaknya. 

 

Menurut Siti Hajar, ibunya selalu mengingatkan sang anak jangan lupa sholat, jangan mengeluh karena hidup adalah perjuangan. Keluhan akan menjadikan putus asa.

 

Nasehat itu tetap tertanam kuat di kolong batin anak-anaknya.

 

Dulu, kata Siti Hajar, setiap malam sebelum tidur dan setiap kali dirinya berangkat bekerja, ibu selalu berpesan, semoga anak-anak senantiasa dalam lindungan Allah dan bekerja dengan tekun, tabah dan sabar.

 

Pesan sederhana dari seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan, bagi Siti Hajar dan saudara-saudaranya adalah kekuatan.

 

Kekuatan yang membuat anak-anaknya tetap berdiri saat lelah. 

 

Tetap tegar saat hidup terasa begitu berat.

 

Kekuatan yang membuat anak-anaknya yakin bahwa Allah pasti membuka jalan dalam mencari rezeki.

 

Siti Hajar dan semua saudaranya percaya, nasehat ibunya adalah juga doa-doa tulus yang begitu mencintai anak-anaknya.

 

Ada doa yang dipanjatkan dengan hati yang bersih.

 

Ada harapan kecil yang Allah dengarkan dan Allah ijabah satu per satu.

 

Dulu ibunya berjuang seorang diri tak mengeluh, tapi dijalani dengan tabah dan berserah diri kepada Allah, sumber segala rezeki.

 

Ketabahan ibu, menjadikan sebagai semangat sekaligus motivasi untuk terus berjuang bagi anak-anaknya.

 

"Ketabahan ibu tempat kami anak-anaknya belajar menjadi kuat. Belajar bangkit dan belajar meyakini bahwa pertolongan Allah jauh lebih besar daripada keputus asaan," gumam Hajar mengenang.

 

Pelan-pelan seiring perjalanan waktu,

Allah tunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Dan, Siti Hajar bertambah yakin, di setiap langkah itu ada doa ibu yang mengiringi.

 

Ada doa kecil dari ibu yang terbang ke langit dan sampai kepada Allah.

 

Namun sejak ibu beristirahat di alam kubur, doa itu tidak lagi anak-anaknya dengar.

 

Tidak ada lagi suara manis ibu yang berkata: "Semoga anak-anak dilancarkan rezeki yang berkah."

 

Dan ternyata kehilangan itu meninggalkan rindu yang tidak pernah benar-benar selesai.

 

Sekarang anak-anak yang mendoakan ibunya.

 

"Kami anak-anak ibu, giliran titipkan doa dalam setiap sujud panjang, dalam setiap air mata yang jatuh diam-diam untuk ibu, semoga tenang di sana," ucap Hajar, lagi-lagi berlinang air mata tulus.

 

Mewakili saudara-saudaranya, Siti Hajar kirimkan rindu yang tak mampu diucapkan kepada siapa pun, kecuali kepada Allah.

 

"Maafkan kami anak-anak ibu, yang melahirkan kami bertarung nyawa, yang membesarkan kami di tengah kesulitan," pintanya.

 

Hajar tak akan melupakan perjuangan dan tangis batin sang ibu.

 

Ibunya begitu kuat meratapi takdir Allah. 

 

Ibunya yang sangat menginginkan anak-anaknya tumbuh dengan dirinya sendiri, ternyata sempat merasakan keberhasilan sang anak. 

 

Karena keberhasilan anak adalah keberhasilan seorang ibu yang tetap tertanam abadi di hatinya hingga ajal datang menjemput.

 

"Selamat jalan ibu, semoga Allah mempertemukan kita kembali di surga-Nya," ucap Hajar dalam doa yang diam, dalam kehilangan yang amat sangat dalam.

 

Keluarga besar dan handai tolan tampak diabadikan dalam foto bersama saat jenazah dimasukkan ke liang lahat.***

Tags:

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.