'
Catatan Didin Maninggara (Dalam Pelayaran Padang Bai - Lembar)
Di kaki langit ibu kota yang bertaburan gedung pencakar langit, Ikatan Keluarga Sumbawa Jakarta Raya (Ikasum Jaya) menggelar maulid adat di Masjid Amir Hamzah, Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Minggu, 29 September 2025.
Bunga-bunga insan berbalut busana adat Tana' Samawa, berjalan perlahan memasuki tempat acara. Bunga insan itu adalah perempuan Sumbawa yang menetap di Jabodetabek. Dengan penampilan memukau, ekspresi wajah mereka begitu ceria, seakan hadir bayangan indahnya maulid adat di tanah kelahiran, Samawa Intan Bulaeng.
Ada rindu merindu di wajah mereka. Luluh dalam kalbu ketika membawa baki' berisi kue-kue khas Sumbawa pada munit adat ini. Sementara pria Sumbawa, memikul sanra' menambah paripurnanya prosesi acara seremonial bernafas religi ini.
Maulid adat yang berlangsung meriah penuh hidmat dalam semangat kekeluargaan yang kental, terpahat dalam sejarah tau Samawa di ibu kota metropolitan, merupakan yang pertama kali terjadi. Sebuah terobosan yang menginspirasi sekaligus memotivasi, tercatat dalam pengurus baru Ikasum Jaya di bawah nahoda Lukman Malanuang dan sekretaris umum Sabaruddin, serta bendahara umum Hj. Siti Hajar. Tentu saja, bersama segenap pengurus lainnya dan warga Sumbawa di Jabodetabek.
Suksesnya maulid adat ini, tidak lepas dari tangan kreatif seniman tiga zaman, MS. Soebekti, yang awet muda di usia senja.
Tata hias tempat acara mengesankan religi islami dalam balutan indahnya adat Sumbawa yang menampilkan kekuatan rilis dan nilai-nilai spiritualitas yang memiliki kedalaman makna, merupakan karya seni Mas Bekti, sapaan familiarnya.
Maulid adat mengusung tema "Parenti Kalanis Tau Samawa: Taket Lako Nene, Kangila Boat Lenge" menampilkan penceramah cendekiawan muda, Prof. Dr. M. Wildan, SS, MA, Wakil Rektor Universitas Pamulang Bidang SDM, Keuangan dan Aset. Sementara Prof. Dr. M. Din Syamsuddin yang merupakan kakak sepupu Prof. Wildan, menyampaikan sambutan kata hati, atau pasatotang, selain sambutan dari Ketua Umum dan Sekretaris Umum Ikasum Jaya. Kemudian doa penutup dipimpin Ustadz Rahim H. Mahmud, yang nama gaulnya Jahon.
Dalam ceramahnya, Prof. Wildan yang berasal dari Utan, mengajak yang hadir agar momentum Maulid Nabi kita kembali kepada Alquran dan hadis.
Dengan ekspresi yang memukau, ia mengulas panjang makna maulid. Salah satu substansinya adalah dalam konteks tau ke Tana' Samawa menjadi momen memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia.
"Sejatinya, itulah esensi taket lako nene, kangila boat lenge," ujarnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, dalam setiap perilaku dan tindakan orang Sumbawa didasarkan pada iman, yakni punya rasa takut kepada Allah SWT dan malu berbuat cela
Kangila boat lenge bersandarkan pad to’ dan ila’ yang artinya to adalah tahu, cakap, cerdik dan trampil.
Ila’ artinya malu yakni ila boat lenge (malu berbuat cela), ila boat no dadi (malu jika pekerjaan tidak tuntas atau tidak selesai), ila eya capa leng tahu (malu di rendahkan harga dirinya) dan ila eya sanonlda rasa leng tau.
Dalam pandangan masyarakat Sumbawa yang dituju adalah Krik Salamat yang artinya limpahan anugerah dan keselamatan yang berdasarkan pada To’ dan Ila’ tersebut.
Tokoh-tokoh yang hadir, Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, Lalu Hermansyah, H. Amir Jawas dan tokoh lainnya.
John Doe
5 days agoLorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.