Gara News
Home Berita Imlek dan Ramadhan: Wahana Berdoa Menggapai Harapan Keberkahan dan Ampunan
Bogor

Imlek dan Ramadhan: Wahana Berdoa Menggapai Harapan Keberkahan dan Ampunan

Rabu, 18 Februari 2026 15 Views 0 Comment
imlek-dan-ramadhan-wahana-berdoa-menggapai-harapan-keberkahan-dan-ampunan

Laporan:

Yonathan Nugraha,

Dewan Redaksi GARANEWS.ID

 

Di sebuah pagi yang teduh di Kota Bogor, lampion merah menggantung tenang di halaman vihara Dhanagun (Ho Tek Bio). Asap hio menari perlahan, membawa doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap. Selasa, 17 Februari 2026, jutaan warga Tionghoa di seluruh persada Indonesia, merayakan Tahun Baru Imlek 2577, tahun shio Kuda — sebuah momen yang datang tepat menjelang bulan suci Ramadhan.

 

Dua perayaan berbeda keyakinan itu seperti berdiri berdampingan, namun memiliki ruh yang sama: doa, syukur, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

 

Dalam tradisi Tionghoa, Imlek bukan sekadar pergantian kalender lunar. Ia adalah simbol peralihan dari musim dingin menuju musim semi — musim hangat yang menandai kebangkitan, pertumbuhan, dan keberuntungan baru. Warna merah dan emas mendominasi, melambangkan 

semangat dan kemakmuran.

 

Di vihara dan klenteng, keluarga-keluarga datang dengan pakaian terbaik. Mereka bersembahyang, menundukkan kepala, memohon kesehatan, keselamatan, dan kelapangan rezeki.

 

Budayawan Tionghoa Jeremy Huang Wijaya, yang dikenal sebagai Suhu Huang, menyebut bahwa inti Imlek adalah silaturahmi dan pembaruan niat.

 

“Selain berdoa, masyarakat saling mengunjungi keluarga dan sahabat. Itu simbol kebahagiaan menyambut musim semi,” ujarnya.

 

Kunjungan tersebut biasanya membawa kue keranjang dan buah-buahan segar. Anak-anak menunggu dengan wajah berbinar menerima angpao — amplop merah berisi doa dan rezeki. Saat berjabat tangan, terdengar ucapan “Gong Xi Fa Cai” dan “Xin Chun Kiong Hi”, harapan agar musim semi membawa keberuntungan.

 

*Kue Keranjang dan Makna Kebersamaan

 

Kue keranjang, berbentuk bundar dan legit, selalu hadir dalam setiap Imlek. Teksturnya lengket seolah menyimbolkan eratnya persaudaraan. Rasanya manis, namun tidak berlebihan — seperti harapan yang sederhana namun tulus.

Ada kisah-kisah klenik yang menyertainya, seolah kue ini pembawa kemakmuran. Namun sesungguhnya, kemakmuran lahir dari nilai-nilai kerja keras dan disiplin yang telah lama mengakar dalam budaya Tionghoa: gemar menabung, hidup sederhana, mengambil keuntungan kecil namun berkelanjutan, menghindari utang konsumtif, dan membiasakan anak mengenal usaha sejak dini.

 

Sejarah panjang kehadiran etnis Tionghoa di Nusantara memperkaya perjalanan bangsa ini. Catatan menyebutkan bahwa biksu Tiongkok Faxian pernah singgah di wilayah Nusantara pada abad ke-4 Masehi. Gelombang perdagangan Tiongkok juga tercatat hadir pada masa Kerajaan Sriwijaya di abad ke-7. Sejak itu, interaksi budaya terus tumbuh dan berbaur.

 

Di berbagai Mall saat khusus seperti Imlek, juga menyelenggarakan hiburan atraksi ketangkasan Barongsai. Hiburan tarian naga yang diangkat dari ketangkasan ahli silat atau kungfu, yang pada zamannya berasal dari Kuil Shao Lim, vihara tempat pertapaan para pendeta biksu. 

 

Dalam rangka membangun karakter yang kuat dan disiplin, mereka meningkatkan kapasitas diri dengan belajar seni bela diri kungfu atau sejenis silat asal negeri Tirai Bambu.

 

*Musim Semi dan Bulan Suci

 

Menariknya, Imlek tahun ini hadir di ambang Ramadhan. Dua momentum spiritual itu sama-sama mengajarkan pengendalian diri, mempererat keluarga, dan memperbanyak doa.

 

Jika musim semi melambangkan kebangkitan alam, maka Ramadhan adalah musim kebangkitan jiwa. Keduanya berbicara tentang membersihkan diri dari “panasnya” kehidupan — entah itu keserakahan, amarah, atau prasangka.

 

Di Indonesia yang majemuk, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah jarak, melainkan jembatan. 

 

Lampion merah dan lampu-lampu masjid bisa bersinar berdampingan tanpa saling meredupkan.

Sebab pada akhirnya, setiap manusia mendambakan hal yang sama: kedamaian, kesehatan, dan keberkahan.

 

Musim semi datang membawa hangat. Ramadhan datang membawa cahaya. Dan di antara keduanya, Indonesia belajar bahwa keberagaman adalah rahmat yang patut dirawat bersama.***

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.