Foto: Ahmad Fuadi & Sabaruddin
Catatan:
Parama Sumbada
Jurnalis GARANEWS.ID
Refleksi akhir tahun 2025 yang segera berganti tahun 2026 dilakukan oleh dua putra Olat Utuk yang berdomisili di Jakarta. Yakni, Sabaruddin dan Ahmad Fuadi. Mereka adalah cucu Abe Doya _ Abdullah _ Kepala Kampung Pemangong pada akhir penjajah Belanda dan awal penjajah Jepang di Indonesia. Kini Pemangong yang berada di lembah kaki Olat (Pengunungan) Utuk jadi Kampung Santri setelah hadirnya Pesantren Modern Internasional Dea Malela (PMI Dea Malela) di lembah Olat Utuk, 40 kilometer belahan selatan Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Apa saja dialog Sabar dan Fuad tentang bulan Desember, ditulis oleh Parama Sumbada, jurnalis media ini di Jakarta.
++++
Ketika senja nongol sejenak di hari Selasa ini, langit Jakarta gelap kembali. Rintik-rintik hujan turun membawa kisah tentang dua saudara sepupu yang tengah semangat berdiskusi mengenai makna Desember, bulan penghujung tahun.
Tema lepas dialog mereka: "Senja memilih bicara Desember" berlangsung di sebuah cafe di salah satu pojok Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.
Sabar memilih makna Desember melihat ke dalam diri sendiri dan Fuad melihat keluar kejadian-kejadian di luar dirinya selama Desember.
Tentu saja pilihan itu dengan sudut pandangnya sendiri. Sabar yang terbiasa sering bepergian ke luar kota, melihat Desember tentang apa yang ia lakukan dan rasakan pada hari-hari di bulan Desember sebagai akhir perjalanan panjang sepanjang tahun 2025.
Sementara Fuad, yang juga sering bepergian, memaknai Desember yang ringan-ringan saja, tetapi bermakna dalam. “Saya merefleksikan senja yang indah di bulan Desember saja,” katanya, sembari menikmati sebatang djiesamsoe dan secangkir kopi.
“Saya melihat dan merasakan Desember kelabu,” kata Sabar, menimpali.
Sabar merasakan kelabu berupa refleksi dari pengamatannya melihat Indonesia sedang berduka oleh bencana banjir meluluh lantakkan tiga provinsi di Sumatra.
Rasa kelabu Sabar menarik, karena serapan dari dalam dirinya. Adapun Fuad, melihat dari luar soal carut marutnya ijazah Jokowi dan beberapa kepala daerah tertangkap tangan KPK.
.
"Bulan Desember memang bulan psikologis, menyentuh ruang batin merefleksikan perjalanan diri yang kadang-kadah tertatih-tatih," ujar Sabar, dan di iyakan Fuad: "Tiba-tiba waktu sudah sampai pada akhir tahun. Semua perasaan sudah menyentuh ubun-ubun."
Rasa dan karsa sudah sampai. Tetapi jiwa masih ada rasa melow, perasaan lembut yang jujur, mengakui kekurangan diri secara diam-diam. Tapi juga kelebihan diri yang belum terumuskan untuk agenda apa di tahun depan.
Sabar dan Fuad pun menatap ke luar cafe, melihat bulan sabit tertutup awan gelap. Kemudian menyimak mencari makna tersirat sembari menatap bayangan pintu tahun 2026. Apakah bisa mengetuk dan masuk membawa sejumput harapan dan peluang?
Dialog mereka pun dengan alam. Curah hujan tinggi, banyak bencana, siklon tropis, mega-thrust masih mengancam. Banyak pula ketidak-pastian. "Ini Desember kelabu,” ujar Fuad, seraya ia mengingat bencana alam terdahsyat Tsunami Aceh tahun 2004 juga terjadi di bulan Desember satu hari setelah Natal.
"Banyak lagi bencana lain yang terjadi di bulan Desember sepanjang sejarah,” kata Sabar, mengiyakan.
Obrolan ini tentu ada maknanya. Intinya, ke depan kita semua harus tingkatkan kewaspadaan. Dari memperhatikan himbauan sederhana agar hati hati jika berlibur di pantai hingga dampak kepastian hukum, politik dan ekonomi tentunya, semuanya harus kita antisipasi.
Jika direnungkan di bulan Desember ini memang terjadi peristiwa- peristiwa yang menyedihkan, mengejutkan, mengecewakan dan berbagai “mixed feelings” yang dirasakan masyarakat.
Sudah pasti kita semua berempati terhadap penderitaan saudara saudara kita yang terkena musibah di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Begitu banyak orang yang menjadi korban sementara relief operations belum bisa maksimal karena antara lain medan yang sangat berat.
Acara “Christmas Carol Colossal Vol 2” menampilkan ribuan penyanyi di Jalan Sudirman, Jakarta baru baru ini sukses. Acara ini menjadi perayaan Natal akbar yang meriah menampilkan lagu- lagu Natal dengan sentuhan musik tradisional Sumatera dan diiringi doa bersama.
Gubernur Jakarta Pramono Anung mengumumkan dalam kesempatan itu, tidak ada pesta kembang api di Jakarta di malam Tahun Baru 2026 seperti tahun- tahun sebelumnya.
Sementara peristiwa yang juga sangat mengejutkan di akhir tahun ini adalah peragaan penyerahan uang sitaan negara yang jumlahnya sangat fantastis sampai Rp 6,6 triliun di Kejaksaan Agung.
Visualisasinya sangat dramatis. Tetapi Ini justru merupakan “display of corruption” dan menggambarkan besar skala korupsi yang ada di Indonesia.
Disamping itu Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK serentak di bulan Desember ini saja menangkap 25 orang di empat daerah yang berbeda.
Menurut Indeks Persepsi Korupsi (IPK) skor Indonesia sampai akhir tahun ini berada masih menempati peringkat bawah di urutan 110 dari 180 negara.
Belum lagi dampak lingkungan yang disebabkan oleh penebangan hutan secara masif di masa lalu hingga menjadi tertuduh penyebab bencana banjir dan longsor.
Sedangkan yang mengecewakan sekali banyaknya hoax social media yang beredar penuh dengan fitnah dengan menggunakan AI atau membuat suara terhadap gambar dan video dengan narasi yang tujuannya mendiskreditkan seseorang.
Terkadang kebebasan media sosial sudah melampaui batas-batas kesantunan dan moral sehingga banyak hak-hak privasi individu dirugikan.
Belum lagi banyaknya media sosial yang memberitakan Bali telah kehilangan daya tariknya sehingga sepi karena wisatawan asing lebih memilih berlibur ke Thailand ketimbang Bali. Ini sangat merugikan pariwisata kita. Yang terjadi adalah hunian hotel berbintang menurun karena kebanyakan wisatawan lebih memilih booking penginapan melalui Airbnb yang lebih murah atau menyewa villa yang menjamur di Bali. Pada kenyataan Bali tetap ramai di bulan Desember ini dan sulit untuk reservasi penerbangan oleh karena padatnya pengunjung.
Jika ada video TikTok yang beredar menampilkan Cristiano Ronaldo dan Dwayne Johnson (The Rock) berlibur ke Yogyakarta dan memberi pujian tentang gudeg Yogya, itu adalah AI generated.
Kita bisa merenungkan apa saja yang membuat bulan Desember terasa kelabu.Tetapi kita juga harus merubah yang kelabu itu menjadi terang. Biasanya “festive season” akhir tahun kita manfaatkan untuk berlibur, berpesta, merayakan Natal dan malam Tahun Baru, berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai, keluarga, sahabat dan mempererat silaturrahim.
"Di bulan Desember ini yang penting kita harus punya Resolusi Tahun Baru dengan berharap membawa perubahan positif bagi diri kita sendiri," kata Fuad, lagi-lagi diiyakan Sabar.
Resolusi ini seperti “goal setting” atau menentukan apa yang kita ingin capai di tahun depan. Biasanya keinginan untuk memperbaiki diri agar lebih sehat, menabung lebih banyak dan mengeluarkan lebih sedikit, atau belajar hal hal yang baru misalnya berkebun, berolah raga Taichi atau belajar Artificial Intelligence (AI).
Fuad lalu menguyip testimoni astrologi Tiongkok, tahun 2026 adalah tahun Kuda Api yang diprediksi sebagai tahun optimisme dan peluang, dengan kepercayaan publik dan investor yang kuat mengarah pada pertumbuhan ekonomi, khususnya di dorong oleh kemajuan dibidang AI.
"Kita semua harus optimis," imbau Fuad. Kemudian menambahkan, seperti yang dikatakan host talk show terkenal Oprah Winfrey, “Kita bersulang untukTahun Baru dan kesempatan baru agar semuanya menjadi benar dan baik.”
Sabar menimpali. Ia mengingatkan, waktu yang telah kita lalui sepanjang 2025 hanya akan menjadi kenangan.
"Dengan begitu, saya hanya bisa merenungkan apa saja kenangan baik dan bermanfaat yang bisa saya ambil sebagai butir-butir hikmah," ucapnya.
Dialog mereka pun seru hangat. "Tahun 2025 dan 2026, bukan periode yang berdiri masing-masing. Keduanya merupakan kelanjutan. 2025 menentukan 2026. Ada hubungan sebab akibat yang berjalan. Apa yang ditanam 2025 akan dipanen 2026," kata mereka sepakat.
Sebagai pribadi dalam menghadapi pergantian tahun, menurut Fuad, dirinya merasakan dalam dua hal yang berlawanan. Pertama, ingin 2025 jangan segera berakhir untuk memberi kesempatan memperbaiki apa yang masih kurang di tahun 2025 supaya menjadi tuntas dengan baik di tahun 2026.
Kedua, ingin segera berpindah ke tahun 2026. Siapa tahu tahun 2026 banyak keberuntungan dan kebaikan yang bisa kita dapatkan.
"Karena itu mari kita songsong tahun 2026, dengan semangat baru. Optimis," seru dua pebisnis ini menutup dialog.***
John Doe
5 days agoLorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.