Gara News
Home Berita Catatan Kenangan Didin Maninggara: Gus Dur ke Israel, Pak Harto Marah
Nasional

Catatan Kenangan Didin Maninggara: Gus Dur ke Israel, Pak Harto Marah

Rabu, 13 Maret 2024 165 Views 1 Comment
catatan-kenangan-didin-maninggara-gus-dur-ke-israel-pak-harto-marah

Pengantar Redaksi:

Juni 1994. Pemred Koran Swadesi, Harsoko Soediro merekrut saya sebagai koordinator liputan politik media mingguan itu. Sebelumnya, saya di Koran Pelita (dari tahun 1979). Pada 11 November 1994, saya ditugasi melakukan wawancara khusus dengan Gus Dur yang saat itu Ketua Umum PBNU. Wawancara terkait kunjungan Gus Dur ke Israel. Wawancara diperluas dengan menemui sejumlah tokoh lainnya. Tulisan ini adalah catatan kenangan saya yang dimuat ulang untuk pembaca GARANEWS.id, media online yang saya kelola. Semoga menjadi refleksi jarak dengan kebiadaban Israel di Palestina.

 

Gus Dur nyelonong ke Israel. Presiden Soeharto marah besar. Menteri Luar Negeri, Ali Alatas dipanggil ke Istana. Kenapa pemerintah kecolongan? Didin Maninggara dari Koran SWADESI mewawancarai Gus Dur di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Jumat, 11 November 1994. Hasil wawancara dimuat di SWADESI edisi 16 - 22 November 1994 dirangkum dengan wawancara sejumlah tokoh yang lain.

 

Gus Dur, panggilan populer KH. Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU, lagi-lagi buat gerah pemerintah. Pasalnya, diam-diam dia nyelonong ke Israel. Padahal sepengetahuan pemerintah, dalam hal ini Menteri Agama, Tarmizi Taher dan Menteri Luar Negeri, Ali Alatas, bahwa Gus Dur pergi ke Italia dalam rangka menghadiri Konferensi Dunia untuk Agama dan Perdamaian. Tetapi, pemikir "sejuta kontroversial" itu tidak hadir di Italia. 

 

Kehadiran Gus Dur di negara Zionis itu, tentunya tak cuma-cuma. "Ada kekuatan lobi Israel di Indonesia yang menjalin hubungan dekat dengan sejumlah tokoh Islam di sini," tandas KH. Moenasir, Wakil Ketua PBNU, saat saya wawancara di Kantor PBNU, Kamis, 10/11/1994) (Hasil wawancara dengan KH. Moenasir berjudul: "Ada Kartu Merah Gus Dur di Muktamar NU" juga dimuat SWADESI 16 - 22 November 1994). 

 

Siapakah juru lobi Israel di Indonesia? Tanya saya kepada Moenasir, yang dia jawab ada, tapi tidak menyebut nama.

 

Buktinya, kata Moenasir, mana mungkin Gus Dur ke Israel tanpa pihak yang memfasilitasinya.

 

Strtegi Israel memang jitu. Orang-orang juru lobinya sangat memahami peta kekuatan pemikir-pemikir Islam di Indonesia. Tentu, dalam konteks yang disebut Gus Dur, yakni Islam kontekstual. Atau menurut istilah tokoh pembaharu pemikiran Islam, Nurcholish Madjid adalah Islam Keindonesiaan, dan istilah Din Syamsuddin, Islam Berkemajuan.

 

Boleh jadi karena itulah, Nurcholish Madjid melihat dari satu aspek. "Kepergian Gus Dur ke Israel mungkin ada benarnya untuk menjajaki keadaan sebenarnya," kata cendekiawan muslim terkemuka itu menjawab pertanyaan saya di kediamannya, Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Sabtu, (12/11/1994). 

 

Tapi di mata Rektor IAIN Jakarta, Quraisy Syihab menilai kepergian Gus Dur itu membawa imbas politik pada pemerintah Indonesia. 

 

"Sepertinya ada kesan, Gus Dur ingin dianggap sebagai orang yang mempunyai hubungan tersendiri dengan Israel," tandas Quraisy saat saya wawancara di kediamannya, Komplek IAIN Jakarta, Sabtu malam (12/11/1994).

 

Menurutnya, Gus Dur ingin sedikit berbeda dengan cendekiawan muslim yang lainnya, sementara sebagian besar umat Islam Indonesia masih memendam marah dengan Israel. 

 

Mantan Menteri Agama, Alamsyah Ratuperwiranegara, yang sekarang Dubes Keliling untuk negara-negara GNB, menanggapi kepergian Gus Dur itu. Dia mengatakan, Gus Dur mempermainkan politik bebas aktif Indonesia di dunia internasional.

 

"Gus Dur yang ke Israel itu langkahnya sudah over dosis. Dia membuat marah umat Islam disaat memang sedang marah atas kekejian Israel terhadap bangsa Palestina yang dicangkuk hak kemerdekaannya," ucap Alamsyah Ratuperwiranegara kepada saya yang ditemui di Pondok Pesantren Nahdlatul Anwar, Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Ahad (13/11/1994).

 

Gus Dur tidak sendirian. Dia ke Israel bersama Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah, Habib Chirzin dan peneliti madya Departemen Agama, Djohan Effendy, yang juga mantan aktivis HMI seangkatan Nurcholish Madjid.

 

"Lho kok diramaiin, saya ke sana untuk memenuhi undangan pemerintah Israel," kata Gus Dur kepada saya di ruang kerjanya, Kantor PBNU, Jumat (11/11/1994).

 

Reaksi pun semakin mengepung Gus Dur. Tidak seperti reaksi ketika empat wartawan Indonesia yang ke Israel, pada awal Maret 1994. Mereka adalah Nasir Tamara (Republika), Derek Manangka (Media Indonesia), Taufik Darusman (Indonesia Bussiness) dan Wahyu Indrasto (Majalah Eksekutif). 

 

Reaksi terhadap keempat wartawan itu cukup gencar. Tak tanggung-tanggung. Lukman Harun, tokoh senior Muhammadiyah menganggap mereka telah menjadi corong pemerintah Israel.

 

Kemarahan umat Islam memang bisa dipahami. Ikatan emosional dengan bangsa Palestina yang teraniaya di tanah tumpah darahnya sendiri, sudah begitu mendalam. 

 

"Kok tiba-tiba ada lagi yang memenuhi undangan Israel berkunjung ke sana. Jelas bisa mengundang marah rakyat," komentar Pj. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Amien Rais yang juga tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) melalui siaran persnya.

 

Tetapi bagi Rais Aam PBNU, KH. Moenasir merasa biasa-biasa saja dengan kepergian Gus Dur ke Israel.

 

"Itu urusan pribadi Gus Dur. Tidak membawa nama PBNU. Hanya disayangkan secara etika, sebaiknya Gus Dur memberi tahu apa maksudnya dia ke sana," kata Moenasir kepada saya di ruang kerjanya di markas PBNU, Jumat (11/11/1994). 

 

Beda NU, beda Muhammadiyah. Sekretaris PP Muhammadiyah, Rusdi Hamka yang juga Wakil Ketua MPP DPP Partai Persatuan Pembangunan, mengeluarkan pernyataan resmi soal kepergian Habib Chirzin ke Israel.

 

"Kepergian Habib di luar pengetahuan dan tanggung jawab Muhammadiyah, tetapi dia akan diberi peringatan keras, bahkan kalau perlu diminta pertanggung jawabannya," tegas putra ulama kharismatik Hamka itu.

 

Haruskah Habib Chirzin yang mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu dihujat? Haruskah Gus Dur yang mempunyai jaringan hubungan internasional yang kuat, juga dihujat? Begitu pula Djohan Effendy diminta pertanggung jawabannya oleh Menteri Agama, tempatnya bekerja kini sebagai peneliti madya?

 

Djohan Effendy yang saya hubungi saat diskusi di Sekretariat HMI Cabang Ciputat di Komplek IAIN Jakarta, Jumat malam (11/11), menjelaskan, bahwa kepergiannya ke Israel bersama Gus Dur dan Habib Chirzin bersifat pribadi, tidak ada misi khusus sebagaimana

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.