Gara News
Home Berita Catatan Kenangan Didin Maninggara (1) : Selamat Jalan Sahabat
Narasi

Catatan Kenangan Didin Maninggara (1) : Selamat Jalan Sahabat

Kamis, 23 Mei 2024 677 Views 0 Comment
catatan-kenangan-didin-maninggara-1-selamat-jalan-sahabat

Foto: Liek Matano

 

 

Ramli. Nama asli dari pemberian orang tuanya. Nama seninya sebagai musisi Liek Matano. Tapi saya sering memanggilnya Lam. Kami berteman sejak usia SD. Liek di SDN 2 Kelurahan Bugis. Saya di SDN 6 Kelurahan Pekat.

 

Baru saja, sekitar 5 menit lalu, pukul 16:37 WITA pada Kamis, 23 Mei ini. Kabar duka saya baca di Grup WA Singang Sepat, bahwa Liek meninggal dunia. Saya turut berduka. Semoga ia diwafatkan dalam keadaan Husnul Khotimah. Amiiin YRA.

 

Liek lahir di Sumbawa Besar pada 1955. Seusia dengan saya. Pada usia belasan tahun, sekitar 12-an, Liek sudah menjadi penyanyi. Kalau tidak salah di Amigos Band. Sehingga ia disebut penyanyi cilik. Seiring waktu berjalan, ia pun bergabung di Seroja Band, milik Pak Ahmadi, orang tuanya Zohran Orek, calon DPRD Sumbawa terpilih dari Partai NasDem.

 

Seiring waktu pula, kami bertemu kembali di Jakarta. Kala itu tahun 1976. Liek mengikuti ayahnya, Pak Aminullah, saudagar hewan. Kami sempat tinggal satu rumah di Ciputat (dekat kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Rumah yang kami tempati biasa disebut Isma, milik paman saya H. Abdul Muis ZA (dosen Bahasa Inggris UIN Jakarta). Yang tinggal di Isma juga Prof Din Syamsuddin saat mahasiswa di UIN itu. Ada juga Lalu Mud, Ustadz Ahim, Yanto Icak dan beberapa tau Samawa lainnya. Termasuk Yoseph Villy, orang NTT yang sejak lahir dan besar di Sumbawa.

 

Setelah saya menjadi wartawan di Koran Pelita pada Juli 1979, saya ditugaskan di wilayah Banten dan Lampung, maka saya hijrah ke Banten. Kami pun jarang bertemu. Lantaran kesibukan tugas meliput, dalam satu atau dua bulan sekali bertemu teman-teman Sumbawa yang pernah satu rumah di Ciputat. Apalagi setelah pindah tugas di Bandung sebagai koordinator berita Koran Pelita Perwakilan Jawa Barat, semakin sangat jarang ke Ciputat, karena disibukkan oleh tugas peliputan keliling Jawa Barat yang terdiri dari puluhan kabupaten/ kota. Baru intens kembali bertemu teman-teman satu daerah, khususnya Liek Matano setelah saya pindah ke Jakarta dengan tugas peliputan di DPR dan Kemendikbud. Itu pun semakin padat peliputan ke berbagai daerah, dari Sabang hingga Papua.

 

Banyak kenangan saya bersama almarhum semasa tinggal bersama di Jakarta. Salah satu prestasi Liek Matano adalah menjadi Instruktur atau pelatih musik Sanggar Privitasari yang mayoritas anggotanya mahasiswa/i UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

Prestasi lainnya adalah menjadi pelatih musik dan paduan suara di Sanggar Sang-Rila, sebuah grup seni di Kota Bandung, dimana saya termasuk salah satu pembina. Anggota sanggar ini sebagian besar berstatus duda dan janda. Sanggar Sang-Rila merupakan bagian dari organisasi induk bernama KuDaDa (Kumpulan Duda & Janda) bermarkas di Bandung, yang saya sendiri ketuanya, saat saya berstatus duda ditinggal mati oleh istri asal Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.

 

Selamat jalan sahabat. Semoga tenang di alam barzah, yang akan dimakamkan Jumat besok di pemakaman umum Brang Biji, Sumbawa Besar.

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.