Foto kenangan Hj. Ainun bersama suami, almarhum H. Saat Abdullah
Ada diaroma cinta rintik berkisah mengingat kenangan menjadi guru. Ini dirasakan Hj. Nur Ainun, S.Pd. Kenangan itu, ia ungkap dalam momentum peringatan Hari Guru Nasional, yang jatuh pada Selasa, 25 November 2025.
Begitulah suara hati Hj. Ainun, yang dilukiskan sebagai diaroma cinta ketika menjalani profesinya sebagai guru.
Ia adalah seorang guru senior yang memulai karier tahun 1980 di sebuah SMP Negeri di Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa hingga 1984. Kemudian pindah mengajar di SDN 15 dari 1984-1990, SDN 1 Sumbawa Besar dari 1990-2000. Pindah lagi ke SDN 15 dari 2000-2019. Karena suaminya, H. Asaat Abdullah mendapat amanah menjadi Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Hj. Ainun ikut hijrah menjadi guru di SDN 35 Ampenan, Kota Mataram dari 2019-2021. Purna tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) terhitung 1 Desember 2021, pada usia 60.
Kedisiplinan mengajar, ketepatan pengelolaan waktu yang sudah disiapkan, gaya mengajar dan tentu dengan profesionalisme sebagai guru telah dijalani dengan baik, mengantar Hj. Ainun meraih penghargaan sebagai Guru Tauladan Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2000.
Selama 41 tahun ia berkiprah menjadi guru yang mengajar dan mendidik siswa-siswanya, menjadikan diri Hj. Ainun memiliki pandangan tentang pentingnya pendidikan. Apalagi, di tengah arus deras perubahan yang multi dimensional di era peradaban digital saat ini.
"Saya mencintai profesi guru, seperti menikmati lantunan cinta tembang kenangan, yang selalu mengisi hari-hari saya bersama suami terkasih, yang kini istirahat tenang di alam barzah," ucap perempuan tangguh kelahiran Taliwang, ibu kota Kabupaten Sumbawa Barat pada 64 tahun silam, itu kepada GARANEWS.ID, malam ini.
Hj. Ainun merasakan profesi guru bersemi abadi di dalam hati nurani, tempat cinta dan kejujuran sejati bersemayam. Ingin rasanya mengulang kembali menjadi guru. Memanggil nama anak-anak didiknya saat mengajar di ruang kelas.
Ia mengaku sedih, guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Padahal, jika kita benar-benar melihat dan merasakan kesehariannya, label itu sungguh kurang pas.
"Bayangkan," ujarnya, seraya berbagi cerita, bagi guru wanita yang sudah berumah tangga, sejak fajar menyingsing, ia sudah terjaga. Tangan dan langkahnya sibuk membersihkan rumah, menyiapkan sarapan, merapikan keperluan anak-anak sekolah, dan mempersiapkan perlengkapan suami untuk berangkat kerja. Ia pastikan semua berjalan lancar tanpa keluhan.
Tak istirahat, langsung ke sekolah dan masuk ruang kelas, memberi pelajaran kepada murid, tak jarang dalam keadaan lelah. Namun, ia tetap menjalani semuanya dengan dedikasi dan cinta yang tak ternilai.
Di tengah keadaan seperti itu, kata Hj. Ainun, guru memang harus bisa "acting" di depan murid-muridnya saat mengajar. Namun, acting dalam arti positif yang mengandung pesan mendidik. Yaitu, guru harus bisa mengelola ekspresi, emosi dan komunikasi agar proses belajar berjalan efektif.
"Keadaan ini bisa terjadi disaat guru lelah, kesal, atau sedang banyak masalah, tapi tetap harus terlihat stabil agar suasana kelas tidak ikut kacau," terangnya.
Karena itulah, lanjut Hj. Ainun, agar pembelajaran lebih hidup dan menyenangkan, guru harus ekspresif membuat siswa lebih tertarik, fokus, dan mudah memahami materi. Apalagi, dengan ackting bercerita, intonasi suara, atau mimik wajah, siswa lebih cepat menangkap materi pelajaran.
Guru tak meminta dilayani, tapi melayani dengan belas kasih. Sebab, menurutnya, guru yang bahagia tidak hanya datang untuk mengajar, melainkan juga, mereka datang untuk menghidupkan suasana kelas.
"Senyum guru yang mengajar dengan belas kasih menenangkan, kata-kata mereka menguatkan,
dan energi positif mereka menular kepada murid-muridnya," ungkap ibunda Zulfikar Demitry, Wakil Ketua III DPRD Sumbawa, itu.
"Ketika hati guru dijaga, dihargai, dan tidak dibebani berlebihan,
mereka mengajar dengan lebih sabar, lebih tulus, dan lebih bersemangat," ucapnya, melanjut cerita pengalaman.
Hj. Ainun meyakini, dari guru yang seperti inilah lahir murid-murid yang percaya diri, karena mereka tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih dari guru-gurunya.
Di akhir ia bercerita, Hj. Ainun berharap kepada putra putrinya, "Jadilah pribadi yang jernih, seperti mata air menyaring. Miliki kerendahan hati dan keteguhan dalam menjalani kehidupan ini, serta terus memohon perlindungan kepada Allah dalam setiap sholat. Insya Allah ketika ajal datang menjemput, kita diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah." ***
John Doe
5 days agoLorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.