Gara News
Home Berita Catatan Didin Maninggara (1) : Menakar Peluang Kemenangan Hendry Ch Bangun di Kongres PWI 2025
PWI

Catatan Didin Maninggara (1) : Menakar Peluang Kemenangan Hendry Ch Bangun di Kongres PWI 2025

Sabtu, 09 Agustus 2025 337 Views 0 Comment
catatan-didin-maninggara-1-menakar-peluang-kemenangan-hendry-ch-bangun-di-kongres-pwi-2025

Foto: Hendry Ch Bangun

 

 

 

 

Di banyak ruang obrolan internal teman-teman wartawan yang saya dengar, kerap beredar pandangan, bahwa pertarungan seorang petahana Ketua PWI, hanyalah kelanjutan dari memetik buah manis dari kinerja pada periode pertama. Pandangan ini melahirkan refleksi sikap optimistik terpilih kembali Hendry Ch Bangun di Kongres Persatuan PWI yang digelar dari 29 - 30 Agustus mendatang di Cikarang, Jawa Barat.

 

Jika Hendry Ch Bangun memenangi kongres, saya memaknai kemenangannya tidak hanya bonus, tapi babak baru dari perjuangannya. Perjuangan panjangnya mengarungi ombak di tengah badai internal yang berujung dualisme kepengurusan.

 

Terlepas soal dualisme itu. Perjuangan Hendry adalah sejarah yang mencatat sekaligus membuktikan bahwa ia menahodai PWI dengan benar. Meski arus deras menghantam, kapal dan penumpang berhasil berlabuh di dermaga.

 

Seorang Hendry Ch Bangun amat sangat menyadari kepemimpinannya sebagai amanah. Bukan sekadar posisi. Periode pertama sebagai momentum strategis, membuat Hendry bergerak cepat. Dengan kesadaran penuh, ia mengisi setiap detik waktu adalah kesempatan yang tak boleh disia-siakan.

 

Amanah itu menuntutnya menggapai capaian nyata dalam membangun SDM insan pers. Antara lain melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Ia terus melangkah melakukan terobosan dengan memanfaatkan seluruh modal pengalaman, jaringan, dan kepercayaan yang telah diamanahkan pada Kongres PWI di Bandung.

 

Hendry melaju lebih cepat dalam tahun pertama masa kepemimpinannya di 2023-2024. Ia punya modal dasar yang membuatnya memahami medan dengan lebih jelas. Ia tahu titik lemah yang harus diperbaiki. Potensi yang perlu dikuatkan, dan peluang yang bisa segera dimanfaatkan. Ia tidak lagi meraba-raba arah. Ia memegang peta yang jelas dan kompas yang pasti. Inilah yang antara lain menjadikan Hendry memiliki peluang kemenangan di periode kedua sebagai ruang strategis mengeksekusi visi besar tanpa lagi terhambat oleh proses adaptasi awal.

 

Kecepatan yang dimaksud bukanlah terburu-buru, melainkan percepatan yang terukur. Ketajaman yang dimaksud bukanlah sikap keras, melainkan kejernihan pandangan dalam menentukan prioritas. Ia mampu memotong jalur yang berbelit. Menembus kebuntuan ide dan terobosan inovatif. 

 

Dengan demikian, periode kedua bukan sekadar kelanjutan dari periode pertama, melainkan fase percepatan menuju puncak capaian yang lebih visioner dan berdampak luas.

 

Idealnya, pada periode pertama sibuk membangun pondasi: merumuskan visi, menyusun strategi, menata gerak dan membenahi hal-hal mendasar agar kapal besar bernama PWI bisa berlayar dengan arah yang jelas. Tetapi di periode pertama, laju kapal dapat dipacu. Gelombang tantangan dihadapi dengan lebih percaya diri. Maka di periode kedua nanti, setiap inovasi yang ia lakukan bisa dieksekusi tanpa lagi terhambat oleh proses adaptasi awal.

 

Saya meyakini, periode kedua adalah tahap ia mengakselerasi, ketika gagasan besar di periode pertama terhambat oleh pengurangan masa jabatan tiga tahun karena kesepakatan Kongres dipercepat dari seharusnya pada 2028.

 

Yang dulu hanya bisa digambar di agenda rencana, periode kedua diharapkan menjelma menjadi kebijakan semakin nyata dan berdampak lebih luas.

 

Keberhasilannya di periode pertama meski belum 1/2 periode, tapi kepemimpinannya adalah kekuatan yang menunjukkan Hendry miliki karakter kepemimpinan akomodatif dan menomorsatukan kepentingan organisasi. Bukan kepentingan pribadi.

 

Di titik inilah, saya melihat kejernihannya berpikir adalah rasionalitas dari ketulusannya menyikapi kemelut internal organisasi.

 

Ketika kejernihan berpikir dan ketulusan berpadu, maka menjalani periode kedua menjadi ruang transformasi PWI yang bakal ia lakukan jika terpilih nanti, memberi legitimasi moral sekaligus legitimasi rasional. 

 

Pemimpin yang memadukan keduanya mampu mengubah tantangan menjadi peluang, dan meninggalkan warisan kepemimpinan yang bukan hanya terukur secara angka, tetapi juga membekas dalam nilai-nilai dan cara berpikir profesional. Dan juga membuktikan kepada publik, bahwa kepemimpinan di tahap ini adalah puncak kematangan visi, keberanian mengambil risiko, serta ketulusan dalam mengabdi. (Bersambung ke episode 2)

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.