Gara News
Home Berita Catatan Budaya Didin Maninggara (4) : Makna Kesejarahan Pengangkatan Datu Raja Muda Kesultanan Sumbawa
Beranda Sumbawa

Catatan Budaya Didin Maninggara (4) : Makna Kesejarahan Pengangkatan Datu Raja Muda Kesultanan Sumbawa

Rabu, 29 Mei 2024 144 Views 0 Comment
catatan-budaya-didin-maninggara-4-makna-kesejarahan-pengangkatan-datu-raja-muda-kesultanan-sumbawa

Foto: Datu Raja Muda duduk di singgasana saat dilantik, dan para keluarga terdekat Sultan Sumbawa ke 17 Sultan Muhammad Kaharuddin IV

 

 

Suatu ketika, seorang Paduka, penguasa kesultanan pulang ke Istana kediamannya. Ia melihat 3 pria berjenggut duduk di halaman depan. Penguasa itu tidak mengenal mereka.

 

Ia berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut".

 

Pria berjanggut itu lalu bertanya, "Apakah Paduka tidak terganggu dengan kedatangan kami?"

 

Penguasa itu menjawab, "Tidak," 

 

"Kalau begitu, salah satu dari kami masuk," kata pria itu.

 

"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama", kata pria yang satu.

 

"Lho, kenapa? tanya Paduka, merasa heran.

 

Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia yang mewakili adalah Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya. Sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan saya sendiri bernama Kasih-sayang.

 

Paduka lagi-lagi heran. "Kalau begitu, silahkan masuk semua," ucap Paduka.

 

"Terima kasih Paduka. Menyenangkan sekali."

 

Paduka pun bertanya pada si Kekayaan maksud kedatangannya. Si Kekayaan menyampaikan bahwa dirinya ingin Istana ini ini penuh dengan kekayaan.

 

Paduka tak setuju. Kemudian menyuruh pengawalnya yang bernama Kesuksesan masuk. Sebab Paduka memerlukan si Kesuksesan untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian rakyat.

 

Ternyata, Paduka senang mendengar kisah sukses si Kekayaan. Tapi Paduka pun memanggil yang bernama si Kasih Sayang masuk.

 

Dalam hati Paduka berucap "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih Sayang tinggal di Istana ini. Istana ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan kasih sayang."

 

Paduka dan permaisurinya setuju dengan pilihan si Kasih Sayang. 

 

Dan, esok harinya si Kasih Sayang menjadi penghuni baru Istana.

 

Karena merasa ganjil, si Kekayaan dan si Kesuksesan bertanya kepada Paduka. "Kalau Paduka hanya mengajak si Kasih Sayang tinggal di Istana, maka kami berdua akan hilang kasih sayang dari si Kasih Sayang, karena dimana ada si Kasih Sayang, maka si Kekayaan dan si Kesuksesan juga akan ikut serta."

 

"Sebab, ketahuilah Paduka. Sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih Sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini," ucap kedua pria ini. Hati Paduka luluh.

 

Kisah di atas mengingatkan kita tau dan Tana' Samawa tentang begitu bermaknanya kesejarahan Sumbawa dalam perspektif Kesultanan Sumbawa tempo dulu, kini, dan esok. Maka, ketika upacara adat Pengangkatan Raihan Omar Hasani Daeng Mas Madinah sebagai Datu Raja Muda Kesultanan Sumbawa yang berlangsung penuh Hidmat di Istana Dalam Loka pada Rabu, 29 Mei 2024, kita menemukan kembali roh sejarah yang hilang. Substansi utama dari roh itu adalah pamendi. Rakyat harus dikasih sayangi dengan sepenuh hati. 

 

Datu Raja Muda dikukuhkan dihadiri ratusan masyarakat Sumbawa. Pelantikan itu memiliki makna khusus dengan kehadiran sederet tokoh utama Tana' Samawa. Termasuk tokoh besar level nasional yang mendunia, yakni Din Syamsuddin. Tokoh utama lintas agama dunia, pelopor utama Dialog Antarperadaban Dunia. Presiden Konferensi Dunia untuk Agama dan Perdamaian. Satu-satunya yang mewakili Indonesia menyampaikan pidato resmi di Sidang Umum PBB, sekian tahun lalu. Seorang doktor ilmu politik Islam lulusan UCLA, Amerika Serikat dan profesor guru besar, dimana saat menyampaikan orasi ilmiah gelar profesornya, Din Syamsuddin mengusung tema disertasi berjudul "Siapa Mengkooptasi Siapa".

 

Kehadiran Prof Din dan sejumlah tokoh utama Tana' Samawa menunjukkan bukti nyata bahwa pengangkatan Datu Raja Muda Kesultanan Sumbawa mendapat apresiasi dan dukungan para tokoh tersebut.

 

Mengapa para tokoh itu mendukung? Jawabannya karena pengangkatan tersebut menandai peristiwa bersejarah yang kembali diadakan setelah 126 tahun, sejak terakhir pada tahun 1898.

 

Upacara pengangkatan Datu Raja Muda merupakan bagian dari tradisi panjang Kesultanan Sumbawa yang bertujuan untuk menyiapkan calon penerus kepemimpinan. Tradisi ini dihidupkan kembali dengan tujuan utama untuk melestarikan adat dan budaya serta menjaga marwah Tau ke Tana Samawa.

 

Pengangkatan ini memiliki fungsi kultural dan kesejarahan untuk menjaga dan melestarikan adat, budaya, dan marwah Tau ke Tana Samawa, kini dan esok. (Lanjut ke episode 5).

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.