IMG-LOGO-X
Home Berita Advokat Kondang Ratho Priyasa Bicara tentang Merayakan Tahun baru dalam Perspektif Hukum Islam
Tahun Baru

Advokat Kondang Ratho Priyasa Bicara tentang Merayakan Tahun baru dalam Perspektif Hukum Islam

Minggu, 31 Desember 2023 37 Views 0 Comment
advokat-kondang-ratho-priyasa-bicara-tentang-merayakan-tahun-baru-dalam-perspektif-hukum-islam

Foto: Ratho Priyasa

 

GARANEWS.id_ Momentum tahun baru biasanya identik dengan pesta kembang api dan ragam pertunjukan tertentu. Tahun baru menjadi tanda berakhirnya masa satu tahun dan akan dimulainya hitungan tahun selanjutnya. 

 

Di Indonesia sendiri tahun baru jatuh pada tanggal 1 Januari karena mengadopsi kalender Gregorian, begitupun dengan mayoritas negara-negara di dunia. Tahun baru biasanya diisi dengan perayaan bersama keluarga, kolega maupun orang tercinta.

 

Meski demikian, masih menjadi pertanyaan bagi banyak kaum muslim seputar menyambut tahun baru ini. Di antaranya perihal hukum merayakan tahun baru serta mengucapkan selamat tahun baru atau “Happy New Year”.

 

Lalu, bagaimana hukumnya menurut kajian Islam? Apakah diperbolehkan atau justru sebaliknya? Advokat kenamaan Ratho Priyasa menjelaskan setelah menelaah berbagai literatur, dijumpai keterangan perihal kebolehan merayakan momentum tahun baru selama tidak diisi dengan kemaksiatan seperti tindakan huru-hara, balap liar, tawuran, pacaran dan lain sebagainya. 

 

Hal tersebut kata Ratho, selaras dengan pernyataan Guru Besar Al-Azhar Asy-Syarif serta Mufti Agung Mesir Syekh Athiyyah Shaqr (wafat 2006 M). Dalam kompilasi fatwa ulama Al-Azhar beliau menyatakan: “Kaisar Rusia, Alexander III pernah mengutus seorang tukang emas ‘Karl Fabraj’ guna membuat topi baja untuk istrinya pada tahun 1884 M. Proses pembuatannya berlangsung selama 6 bulan. Topi itu ditempeli batu akik dan permata. Warna putihnya dari perak dan warna kuningnya dari emas. Di setiap tahunnya ia menghadiahkan topi serupa kepada istrinya hingga kemudian istrinya ditumbangkan oleh pemberontakan kelompok komunisme pada tahun 1917 M. Mulanya acara ini merupakan suatu perayaan ‘Sham Ennesim’ (Festival nasional Mesir yang menandai dimulainya musim semi) yang merupakan tradisi lokal Mesir lantas berubah menjadi tradisi keagamaan. 

 

Lalu bagaimanakah hukum memperingati dan merayakannya bagi seorang muslim?

 

Ditegaskan Ratho, bahwa bersenang-senang dengan keindahan hidup yakni makan, minum dan membersihkan diri merupakan sesuatu yang diperbolehkan selama masih selaras dengan syariat, tidak mengandung unsur kemaksiatan, tidak merusak kehormatan, dan bukan berangkat dari akidah yang rusak.

 

Senada dengan fatwa yang dirilis oleh Mufti Agung Mesir, Ratho mengutip pernyataan ulama pakar hadis terkemuka asal Haramain, Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki (wafat 2004 M) dalam kitabnya menegaskan: “Sudah menjadi tradisi bagi kita berkumpul untuk menghidupkan berbagai momentum bersejarah, seperti halnya maulid nabi, peringatan isra mi’raj, malam nishfu sya’ban, tahun baru hijriyah, nuzulul qur’an dan peringatan perang Badar. 

 

Menurut Ratho, peringatan-peringatan seperti ini merupakan bagian daripada tradisi, yang tidak terdapat korelasinya dengan agama, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang disyariatkan ataupun disunahkan. Kendati demikian, juga tidak berseberangan dengan dasar-dasar agama, sebab yang justru mengkhawatirkan ialah timbulnya keyakinan terhadap disyariatkannya sesuatu yang tidak disyariatkan. 

 

Melihat dua referensi di atas dapat disimpulkan, lanjut Ratho, peringatan momentum tahun baru dalam pandangan Islam masuk dalam kategori adat istiadat ataupun tradisi yang tidak memiliki korelasi dengan agama. Sehingga, hukumnya bagi seorang muslim boleh-boleh saja merayakan pergantian tahun baru tersebut selama tidak diiringi perbuatan maksiat.

 

Mengucapkan Selamat Tahun Baru

menjelang pergantian tahun, topik pembicaraan yang kerap mengemuka bukan hanya terkait perayaannya saja, melainkan juga seputar ucapan selamat tahun baru atau populer dengan ungkapan “Happy New Year” bolehkah kita sebagai muslim turut mengucapkan selamat tahun baru kepada segenap keluarga, kerabat, ataupun kolega.

 

Merayakan momentum tahun baru dengan berbagai bentuknya, serta mengucapkan selamat tahun baru atau “Happy New Year” menurut perspektif kajian Islam merupakan hal yang mubah (diperkenankan), selama tidak dilakukan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat, seperti tindak kemaksiatan.  

 

Meski begitu, alangkah baiknya bagi kita untuk memaknai pergantian tahun baru ini sebagai momentum untuk mengevaluasi diri agar lebih memaksimalkan ibadah ke depannya dengan ungkapan syukur. 

 

Selain itu, yang tak kalah penting dalam momentum pergantian tahun ialah memohon kepada Allah Swt. agar senantiasa memberikan kita kekuatan untuk menjalankan kebaikan dan ketaatan serta dijauhkan dari segala marabahaya.

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.