Gara News
Home Berita Aborsi, Jalan Pintas Menepis Aib Bercinta: Antara Moral dan Kultural
KISAH KEHIDUPAN

Aborsi, Jalan Pintas Menepis Aib Bercinta: Antara Moral dan Kultural

Minggu, 31 Mei 2026 25 Views 0 Comment
aborsi-jalan-pintas-menepis-aib-bercinta-antara-moral-dan-kultural

 

 

Catatan: Didin Maninggara 

________

 

Waktu sholat ashar baru saja tiba hari ini. Mak Esi (bukan nama sebenarnya) kedatangan pasien lagi. Sementara di dalam kamar, yang berdampingan dengan ruang tunggu, terdengar rintihan seorang wanita menahan sakit. Sebuah praktik aborsi sedang berlangsung di situ. Yaitu, proses pengguguran janin melalui tangan wanita usia 60-an tahun itu, di rumahnya di sebuah kampung di salah satu kabupaten di Jawa Barat. 

 

Pasien itu, nama samarannya Liza. Cantik. Usia sekitar 20-an. Ia terlentang di atas kasur beralaskan tikar. Mak Esi meraba perutnya di bawah pusar. Jari-jarinya menekan pelan bagian itu. Liza kesakitan. Dalam hitungan beberapa menit, bagian itu mengeluarkan cairan kecil. Mak Esi menekan lagi dengan kuat. Wanita bertubuh semampai itu pun menjerit lepas. Setelah itu, selesailah sudah. 

 

Liza terbaring lemas sejenak. Rasa sakitnya berangsur hilang. 

 

Mak Esi berucap pesan: "Neng, sekarang boleh pulang. Tunggu dua tiga hari pasti keluar. Mirip cairan sedang datang bulan. Darahnya banyak, nggak apa-apa."

 

Sembari mengantar Liza ke ruang tunggu, Mak Esi juga berpesan kepada lelaki pacarnya: "Tolong jaga baik-baik. Jangan lupa berikan beberapa helai daun sirih untuk disimpan di celana dalam Neng Liza, biar merangsang yang diperut supaya cepat keluar."

 

#Fakta Sosial

 

Liza bukan sendirian. Ia hanya bagian tak terbilang banyaknya wanita muda bernasib serupa. Cuma, Liza merupakan salah satu contoh fakta sosial yang dibentuk oleh realitas pergaulan bebas nilai. 

 

Sementara Mak Esi, tidak juga seorang diri. Ia hanya sebuah sosok lain dari fakta sosial betapa hebatnya dukun aborsi. Yang sesungguhnya aborsi terjadi di mana-mana. Yang legal dan tidak legal.

 

Mak Esi mengaku, bahwa beberapa pasien sudah menjadi langganannya. 

 

Sebut saja nama samarannya Ira. Wanita cantik yang sudah 5 tahun menjanda, bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

 

Ia bilang kepada saya: "Bagiku, Mak Esi benar-benar dewa penyelamat. Bayangkan om, sejak aku jatuh di pelukan seorang lelaki beristri, aku sudah tiga kali dibantu sama Mak Esi. Pacarku itu nggak boleh pakai obat anti hamil. Aku kecolongan, perutku berisi." 

 

Keadaan ini, lanjut Ira, ia memberitahu sang pacar dan menyuruhnya ke Mak Esi.

 

"Entah kenapa, aku merasa dekat dengan Mak Esi," ujar Ira, sembari melempar senyum saat saya mengajaknya ngobrol lebih dalam.

 

Ira mengaku, sampai sekarang tidak ada teman sekantor dan tetangganya yang tahu dirinya sering aborsi.

 

#Lika-liku Aborsi

 

Mengintip praktik aborsi yang dilakukan Mak Esi, sudah menjadi hal biasa di sana. 

 

Namun Mak Esi tidak mau tahu, alasan mereka yang datang menggugurkan kandungan. Bisa jadi, dengan niat yang baik atau sebaliknya.

 

Aborsi adalah keterampilan Mak Esi yang diwariskan ibunya sebelum meninggal. Ia tekuni profesi ini sudah lama. 

 

Tak terbilang pasiennya. Dari yang beriktikad baik, karena semata-mata untuk menjaga jarak kelahiran. 

 

Aborsi biasanya dilakukan dalam dua bentuk. Dengan atau tanpa pembiusan. "Tapi umumnya pasien tidak suka dengan pembiusan kalau hanya untuk menghindari rasa sakit," ujar Mak Esi. Lagi pula, ia tidak memiliki alat pembiusan seperti yang dimiliki dokter. 

 

Tapi bagi yang ingin dibius, ia lakukan dengan cara ritual, alias gaib.

 

"Biasanya puncak rasa sakit datang kemudian, setelah semua prosesnya beres," tambah Mbak Esi.

 

#Antara Moral dan Kultural

 

Begitulah aborsi. Dipersoalkan, tapi  

terus dipraktikkan. 

 

Bagi sosiolog, aborsi mungkin hanya bagian saja dari fakta sosial yang mewabah. Sehingga pelaku aborsi tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan individual belaka.

 

Persoalan aborsi melahirkan sudut pandang dalam perspektif realitas sosial. Telah menjadi perdebatan krusial sejak lama.

 

Apapun sudut pandang perdebatannya, aborsi adalah penyakit moral.

 

Aborsi terjadi, karena ada struktur sosial yang timpang. Karena itu, penyelesaiaannya bersifat menyeluruh melalui berbagau pendekatan sosial dan kultural yang mampu merubah struktur sosial yang timpang itu.

 

Apa sesungguhnya yang dibutuhkan dari aborsi? 

 

Dengan senyum malu-malu kucing, Ira yang berlesung pipit dan berpostur sintal menjawab singkat: "Hanya satu Kang Didin, untuk menghilangkan aib akibat cinta yang bebas nilai."

 

Kami pun berpisah. Saya meninggalkan rumah Mak Esi, melanjutkan perjalanan pulang ke Bogor. Dan Ira dijemput pacarnya.

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.