IMG-LOGO-X
Home Berita Catatan Didin Maninggara (2) : Ustadz Nun Mendorong Pendidikan Karakter Sebagai Salah Pilar Utama Pembangunan Sumbawa Barat
Pilkada

Catatan Didin Maninggara (2) : Ustadz Nun Mendorong Pendidikan Karakter Sebagai Salah Pilar Utama Pembangunan Sumbawa Barat

Sabtu, 13 Januari 2024 315 Views 0 Comment
catatan-didin-maninggara-2-ustadz-nun-mendorong-pendidikan-karakter-sebagai-salah-pilar-utama-pembangunan-sumbawa-barat

Foto: Ustadz Nun

 

GARANEWS.id _ Drs. H.M. Nur Yasin menekankan pentingnya pendidikan karakter sebagai penggerak peradaban bangsa. Dalam perspektif lokal, pendidikan sebagai pilar utama pembangunan Kabupaten Sumbawa Barat ke depan.

 

“Ini mengingatkan kita bahwa bangsa ini, termasuk Kabupaten Sumbawa Barat membutuhkan lembaga-lembaga pendidikan yang mewajibkan dunia pendidikan sebagai turbin penggerak peradaban bangsa,” kata Ustadz Nun, nama populernya dalam bincang singkat dengan GARANEWS.id di kediamannya beberapa waktu lalu.

 

Lebih lanjut, menurutnya bahwa pemerintah seharusnya merasa berutang budi kepada lembaga pendidikan seperti pesantren, yang secara inisiatif dan tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

“Saya ingin mengirim pesan pada siapapun kalau ingin bangsa ini maju, wabilkhusus Sumbawa Barat salah satu yang sangat utama adalah meningkatkan kualitas pendidikan nasional secara utuh,” pesannya.

 

Bakal kandidat Bupati Sumbawa Barat itu menegaskan, pendidikan yang bersifat material tetapi juga pendidikan yang mengandung elemen spiritual, pendidikan yang bukan hanya kecerdasan tapi pendidikan ketangguhan karakter dan itu ada di pesantren.

 

Pendidikan merupakan komponen yang sangat penting dan harus dimiliki setiap orang untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Masyarakat yang memiliki pendidikan yang baik, lanjut Ustadz Nun, dapat memperkokoh pondasi negaranya. Dapat pula memperkokoh Sumbawa Barat.

 

"Ini sudah masuk dalam visi misi saya bersama Pak Sumardhan," ucapnya.

 

Tak ada satu negara di dunia ini yang melalaikan pendidikan bagi rakyatnya bila negara tersebut ingin maju dan besar.  

 

"Bagi Indonesia, pendidikan merupakan amanat yang harus ditunaikan karena merupakan salah satu tujuan bernegara yang dinyatakan dengan jelas dalam pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa," tandasnya.

 

Pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian: proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. 

 

Karena itu, kata Ustadz Nun, pendidikan memiliki dua aspek penting yakni aspek kognitif (berpikir) dan aspek afektif (merasa) yang tujuannya untuk mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Mengenai pendidikan yang dilaksanakan bagi siswa sekolah di zaman milenial, Ustadz Nun menjelaskan, tentu mempunyai sistem dan strategi yang berbeda dengan zaman sebelumnya. Zaman milenial merupakan zaman yang sangat berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya. Zaman milenial ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat sehingga mampu merubah cara berpikir dan bertindak manusia. 

 

Ustadz Nun menyebut contoh, jika sebelumnya manusia memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan informasi dari belahan dunia lain, maka di zaman milenial ini hanya cukup mengetik melalui ponsel yang terhubung dengan internet maka beberapa detik kemudian sudah muncul informasi yang diinginkannya. Kemudahan dan kecepatan akses itulah yang menyebabkan perilaku manusia berubah sangat signifikan.

 

Perkembangan teknologi yang sangat pesat juga mengakibatkan banyak perubahan di bidang pendidikan. Contohnya sekitar tahun 1980-1990an secara umum sekolah- sekolah di Indonesia dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar masih menggunakan papan tulis hitam dan kapur sebagai alat bantu pengajaran oleh guru kepada para siswanya. Selain itu guru juga lebih banyak mendikte para siswanya melalui buku teks dalam mengajar. 

 

Namun dengan perubahan zaman yang dipelopori oleh kemajuan teknologi, kegiatan belajar mengajar seperti di atas sudah ditinggalkan. Kini pembelajaran di tahun milenial lebih banyak menggunakan alat-alat yang canggih seperti komputer atau laptop beserta internet di dalamnya. Sumber-sumber ilmu pun tidak melulu dari apa yang disampaikan oleh guru. Para siswa leluasa mendapatkan informasi dari dunia maya untuk melengkapi informasi dari sekolah.

 

Keleluasaan dalam mengakses berbagai informasi yang dilakukan oleh para siswa dengan dukungan teknologi memang memberikan kemajuan luar biasa dalam cara berpikir. 

 

Namun demikian, Ustadz Nun mengingatkantetap ada efek negatif yang dapat menghinggapi para siswa jika mereka tidak hati-hati dalam menggunakan internet serta tidak menyaring berbagai informasi yang mereka akses, tetapi umumnya para siswa, yang mana semangat jiwa mudanya dan keingintahuannya sangat tinggi akan sangat mudah dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan diaksesnya melalui internet. 

 

"Jika yang ditirunya adalah hal yang positif tentu akan menambah nilai diri bagi siswa tersebut, namun bila yang ditirunya adalah hal yang negatif tentu akan dapat mengurangi nilai diri siswa. Keterbiasaan mendapatkan informasi yang didapat dari internet mampu mengubah cara berpikir dan bersikap para siswa," tutupnya.

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.