IMG-LOGO-X
Home Berita Tauziah Ramadhan Abi Mang : Manusia Sejati Merasakan Damai di Hati
Gema Ramadhan

Tauziah Ramadhan Abi Mang : Manusia Sejati Merasakan Damai di Hati

Kamis, 06 April 2023 152 Views 0 Comment
tauziah-ramadhan-abi-mang-manusia-sejati-merasakan-damai-di-hati

GARANEWS.id _ Abi Mang, nama familiar Dr. Drs. Arachman Alamudy, SH; M.Si. Separuh hidupnya berkiprah di dunia politik, dengan jabatan terakhir Ketua Partai Golkar dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa. Separuhnya lagi pernah menjadi pengusaha sukses. 

 

Dalam momentum puasa Ramadhan ini, ia bicara tentang kedamaian hati. Atau boleh disebut dengan istilah Tauziah Ramadhan.

 

Abi menjelaskan di awal tauziahnya, bahwa ternyata Allah menciptakan manusia tidak seperti pabrik mobil yang hanya membuat sebuah produk yang siap bergerak setelah diberi bahan bakar dan oli. Tetapi, Allah menciptakan manusia lengkap dengan segala fasilitas yang membuat kita bisa bergerak leluasa tanpa batas. Menembus ruang dan waktu.

 

Hal ini, kata Abi, karena Allah menghadirkan manusia di dunia dilengkapi dengan segala fasilitas, berupa oksigen, air, makanan dan zat-zat lainnya, seperti tumbuh-tumbuhan dan hewani.

 

Semua fasilitas tersebut bisa didapatkan secara gratis. 

 

"Begitu hebatnya Allah menciptakan oksigen dan air yang bisa diambil secara gratis oleh 

manusia sesuka hati," ungkapnya, yang dilansir di postingan akun Facebook pribadinya, Kamis, 6 April 2023 dini hari.

 

Dengan oksigen dan air

itu, manusia dapat bernafas, bergerak, dan bertahan hidup. Allah juga menyediakan berbagai tumbuhan dan hewan yang dapat kita konsumsi.

 

Hakekatnya, hewan dan tumbuhan tersebut dapat kita nikmati cuma-cuma.

 

Dengan demikian, ia menegaskan, sungguh tidak ada alasan bagi manusia untuk merasa hidup sengsara di dunia. Sebab semua telah dicukupkan oleh sang pencipta, Allah SWT.

 

Karena itulah, kata Abi yang suka melantunkan lagu-lagu tembang nostalgia, bahwa kesedihan dan penderitaan yang kita alami, sesungguhnya karena kitalah yang menciptakananya, baik sadar maupun tidak.

 

Karena itu pula filosofinya tidak ada orang miskin, tidak ada orang kaya, tidak ada orang pintar, tidak ada orang bodoh, tidak ada orang kuat, tidak ada orang lemah, yang ada hanyalah orang yang merasa miskin, orang yang merasa kaya, orang yang merasa pintar, orang yang merasa bodoh, orang yang merasa kuat, orang yang merasa lemah.

 

"Kita menciptakan istilah miskin dalam pikiran. Kita merasa berkekurangan jika dibandingkan dengan orang lain. Kita merasa miskin karena merasa tidak memiliki sesuatu yang berharga. Sesuatu yang dimaksud adalah yang memiliki nilai materi yang tinggi," tandasnya.

 

Kemudian Abi mengajak kita merenung, bahwa jika kita telaah, tubuh yang kita miliki ini adalah harta yang secara material sungguh tak ternilai harganya. 

 

"Mari renungkan, maukah kita menukar mata dan telinga kita dengan uang senilai 1 miliar atau berapa ratus miliar pun sehingga kita tak bisa lagi melihat betapa lucunya anak dan cucu kita?" ucap Abi bertanya.

 

Ia melanjutkan, maukah kita menukar indra kita sehingga tidak lagi bisa melihat betapa indahnya pemandangan di tepi pantai saat matahari terbit? Maukah kita menukar penglihatan dan 

pendengaran kita sehingga tidak tahu lagi rasanya terhibur saat menonton film?

 

Fakta membuktikan bahwa mata dan telinga kita sungguh bernilai jauh lebih mahal dari itu semua.

 

Maukah kita menukar lidah kita dengan uang senilai 2 miliar? Lalu kita tidak lagi bisa merasakan betapa lezatnya secangkir kopi hangat. Kita tidak tahu lagi betapa nikmatnya semangkuk gulai kambing, kita tidak lagi dapat

merasakan betapa sedapnya sepiring nasi goreng. Renungkan pula berapa nilai tangan kita, kaki kita, rambut kita, kulit kita, otak kita, paru-paru kita, jantung kita, ginjal, lambung, dan puluhan organ dalam tubuh kita.

 

Abi pun mengingatkan kita keliru dalam memahami dan memanfaatkan semua fasiltas tersebut yang diberikan Tuhan.

 

Makna sebenarnya kekayaan dalam bahasa Al- Qur'an disebut aqnaa. Jika dikonversi, kata tersebut menjadi sifat qanaah yang bermakna merasa cukup atas apa yang dimilikinya. Sikap qanaah juga berarti merasa cukup dan ridha atas karunia dan rezeki yang diberikan Allah.

 

Abi menyimpulkan di akhir tauziahnya, bahwa sesungguhnya Allah hanya memberi kekayaan dan kecukupan kepada Hamba-Nya. Tentu dengan maksud agar kita bersyukur.

 

 Dengan demikian, papar Abi lebih lanjut, bahwa yang menciptakan kemiskinan adalah diri kita sendiri.

 

"Subhanallah, betapa kebesaran dan keagungan Allah, semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa pandai bersyukur atas berbagai nikmat yang dikaruniai oleh Allah SWT," tutupnya, sembari menyampaikan salam sehat dan selamat menunaikan ibadah puasa.

Tinggalkan Komentar



Komentar

Image Description
John Doe
5 days ago

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. A doloribus odio minus, magnam nisi repellendus aspernatur reiciendis sit dignissimos expedita eius deserunt! Saepe maxime ipsam quo minus architecto at sequi.